IndonesianJournal.id, Jakarta — Kerangka besar “Swasembada Air Indonesia” menjadi bagian dari rangkaian IEE Series-Engineering Week 2026 yang mengusung tema Sustainability for Industrial Transformation. Presentasinya muncul di pembukaan Indonesia Water Forum (IWF) 2026 yang turut menjadi salah satu forum utama dalam rangkaian tersebut (9/9).
IWF 2026 dibuka di JIExpo, Kemayoran, Jakarta Pusat. Swasembada air sendiri menjadi salah satu agenda besar menuju Indonesia Emas 2045. Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan menyusun empat pilar utama untuk mencapai target tersebut.
Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar Kemenko Infra Nazib Faizal memaparkan empat pilar tersebut dalam forum yang digelar PERPAMSI. Pilar pertama adalah air untuk rakyat, yakni akses air minum aman dan sanitasi layak bagi seluruh masyarakat. Ini menyasar pemerataan layanan tanpa memandang status ekonomi warga.
Pilar kedua adalah air untuk pangan, berfokus pada keandalan air baku dan irigasi. Ketersediaan air ini dinilai penting untuk mendukung target swasembada pangan nasional. Kedua sektor ini menurutnya saling terkait dan tidak bisa dipisahkan.
Pilar ketiga adalah keberlanjutan untuk air, mencakup perlindungan sumber air dan pengendalian pencemaran. Pilar ini turut menyasar penguatan ketahanan menghadapi perubahan iklim. Nazib menilai aspek ini semakin mendesak seiring tekanan terhadap ketersediaan air baku.
Pilar keempat adalah data analitik untuk air, berupa basis data dan sistem pemantauan terpadu.
“Ke depan, air itu harus evidence-based, bukan berdasarkan perasaan,” kata Nazib. Sistem ini diharapkan menjadi dasar pengambilan keputusan yang lebih akurat.
Nazib menegaskan keempat pilar tersebut tidak akan berjalan tanpa tata kelola yang kuat.
“Tanpa kelembagaan, regulasi, dan pembiayaan yang sehat, keempat pilar berhenti sebagai daftar keinginan,” tegasnya.
Pernyataan ini menjadi penekanan bahwa visi besar membutuhkan fondasi kelembagaan yang jelas.
Pembentukan Regulator Air Nasional
Kemenko Infra turut mendorong penguatan kelembagaan lewat rencana pembentukan regulator air nasional. Penanganan kehilangan air atau Non-Revenue Water (NRW) disebut sebagai langkah prioritas yang paling cepat berdampak. Reformasi skema tarif dan subsidi juga menjadi bagian dari agenda tata kelola yang sedang dirumuskan.
Kerangka empat pilar Swasembada Air Indonesia ini turut menyinggung perbandingan struktur tata kelola dengan Malaysia. Nazib menegaskan pembelajaran dari Malaysia perlu diadaptasi, bukan disalin mentah ke konteks Indonesia. Perbedaan struktur kelembagaan dan tingkat desentralisasi kedua negara menjadi alasan utama dibalik penegasan tersebut.
IEE Series – Engineering Week 2026 akan berlangsung di JIExpo Kemayoran hingga 12 September 2026.

