Indonesian Journal, Jakarta — Di tengah citranya sebagai olahraga mahal, boros energi, dan sarat jejak karbon global, Formula One perlahan bergerak menuju era mobil balap ramah lingkungan. Konsep pemasaran hijau ini diterjemahkan mulai dari strategi manufaktur, bahan bakar rendah emisi, hingga eksperimen material sirkular pada mobil balap generasi baru.
Laporan keberlanjutan 2025 milik McLaren Racing menjadi salah satu penanda paling jelas bagaimana industri motorsport mulai menggeser orientasinya. Laporan itu mengklaim performa kompetitif merka di lintasan Formula One dengan pemangkasan emisi hingga 39 persen dibanding baseline.
Di saat yang sama, tekanan terhadap industri balap global juga semakin besar. Perubahan iklim mulai mengganggu kalender balapan. Suhu ekstrem mengancam keselamatan pembalap dan kru. Di saat bersamaan, publik menuntut olahraga global menunjukkan tanggung jawab ekologis yang lebih nyata.
Dalam konteks di atas, industri Formula One menghadapi pertanyaan penting terkait tanggung jawab lingkungan alih-alih sekadar siapa tercepat di lintasan.
Apakah balapan masa depan masih bisa relevan tanpa transformasi lingkungan?
Laporan McLaren dan Ambisi Circular Formula One Car
Dalam McLaren Racing Sustainability Report 2025, perusahaan memperkenalkan visi “circular Formula One car”, sebuah model mobil balap berkelanjutan. Rancangan ini memiliki pendekatan ekonomi sirkular melalui penggunaan material bio-based, daur ulang, serta pengurangan limbah manufaktur.
McLaren menyebut tingkat circularity mobil mereka mencapai 22 persen. Angka tersebut dihitung dari proporsi material masuk dan keluar dalam proses produksi chassis mobil balap. Termasuk dalam hal ini, kemampuan material untuk digunakan kembali atau didaur ulang.
Mereka juga mulai menggunakan resin bio-based pada komponen carbon fiber, flax fibre composite, hingga tooling board berbasis bio-derived material. Mereka juga mengembangkan sistem segregasi limbah manufaktur yang diklaim berhasil memangkas limbah berbahaya hingga 40 persen pada area produksi komposit.
Selain itu, McLaren memperluas penggunaan sustainable aviation fuel (SAF) untuk menutup 100 persen emisi perjalanan bisnis dan logistik musim 2025. Langkah tersebut diposisikan sebagai bagian dari strategi dekarbonisasi motorsport global.
Namun laporan itu juga menunjukkan realitas yang lebih kompleks. Meski emisi operasional turun, emisi rantai pasok justru meningkat seiring pertumbuhan bisnis dan pengembangan teknologi balap baru. Di sinilah tantangan terbesar Formula One muncul terkait mempertahankan performa balap tanpa memperbesar tekanan lingkungan.
Dan pertanyaan itu membawa Formula 1 pada perdebatan yang lebih luas tentang masa depan olahraga otomotif modern.

Antara Inovasi dan Paradoks Industri Balap
Gagasan era mobil balap ramah lingkungan pada dasarnya terdengar paradoks. Formula 1 dikenal sebagai simbol konsumsi energi tinggi, logistik global yang intensif, berteknologi mahal, hingga siklus produksi sangat cepat.
Namun sejumlah penelitian mulai melihat motorsport sebagai laboratorium inovasi transisi energi.
Dalam jurnal Transportation Research Interdisciplinary Perspectives, para peneliti menilai Formula One memiliki kapasitas besar menjadi ruang eksperimen teknologi rendah karbon. Sifatnya yang kompetitif memaksa tim menemukan solusi efisiensi ekstrem dalam waktu singkat. Teknologi hybrid, efisiensi aerodinamika, hingga material ringan yang kini umum di industri otomotif sipil sebagian lahir dari kebutuhan balap.
Di sisi lain, kritik tetap muncul. Banyak akademisi mempertanyakan efektivitas klaim keberlanjutan Formula 1 selama kalender balapan masih tersebar lintas benua. Dengan jadwal yang super padat, mereka sangat bergantung pada penerbangan logistik internasional.
Dalam konteks tersebut, langkah McLaren sebenarnya menarik. Tim racing asal Inggris itu mengakui bahwa keberlanjutan tidak lagi bisa dipisahkan dari masa depan performa.
Alih-alih sekadar mengurangi emisi operasional, McLaren mulai masuk ke wilayah yang lebih sulit: material sirkular, rantai pasok berkelanjutan, dan desain manufaktur rendah limbah. Artinya, perubahan mulai menyentuh jantung industri balap itu sendiri.
Dua Wajah Balapan Ramah Lingkungan
Jika Formula 1 mencoba bertransformasi dari dalam, Formula E sejak awal memang dibangun sebagai kampanye balapan listrik rendah emisi.
Perbedaan keduanya sangat mencolok.
Formula E menggunakan mobil listrik penuh dengan kalender balapan yang sebagian besar berlangsung di pusat kota besar dunia. Narasi utamanya adalah mobilitas urban berkelanjutan, efisiensi energi, dan elektrifikasi transportasi.
Sementara Formula 1 masih mempertahankan mesin pembakaran internal hybrid dengan fokus pada sustainable fuel sebagai solusi transisi. Mulai 2026, Formula One bahkan akan menggunakan 100 persen bahan bakar berkelanjutan pada mobil balapnya.
Dari sisi emisi, Formula E memiliki keuntungan karena tidak membutuhkan bahan bakar fosil langsung saat balapan. Namun Formula 1 tetap unggul dalam pengaruh global, kapasitas investasi teknologi, serta kemampuan transfer inovasi ke industri otomotif massal.
Formula E dapat dipandang sebagai simbol masa depan elektrifikasi, sedangkan Formula 1 masih dalam tahap transisi. Meski demikian, secara bertahap, industri F1 tengah menuju era dekarbonisasi.
Keduanya berjalan di jalur berbeda dalam agenda yang sama. Setidaknya, industri balap mulai memahami bahwa berdiri di luar agenda perubahan iklim global bukanlah opsi yang bijak.
Masa Depan Industri Balapan Global
Masa depan Formula 1 dan Formula E kemungkinan berdiri dalam dua kaki, teknologi kendaraan dan adaptasi krisis iklim.
Penelitian tentang climate risk in motorsport yang dikutip McLaren menunjukkan panas ekstrem kini mengancam sebagian besar sirkuit Formula 1 dunia. Risiko banjir, kualitas udara buruk, hingga cuaca ekstrem mulai memengaruhi operasional balapan dan keselamatan kru.
Karena itu, banyak ahli melihat masa depan motorsport akan bergerak ke arah:
- efisiensi logistik global,
- penggunaan bahan bakar rendah karbon,
- material sirkular,
- elektrifikasi,
- dan kalender balapan yang lebih regional.
Di saat bersamaan, tekanan publik terhadap praktik greenwashing juga akan semakin besar. Tim balap tidak lagi cukup hanya menanam pohon atau membeli kredit karbon. Publik mulai menuntut transformasi sistemik dalam rantai pasok, produksi kendaraan, hingga pola konsumsi energi industri olahraga global.
Dalam konteks itu, Formula 1 mungkin sedang memasuki fase paling penting sejak era hybrid dimulai. Bukan lagi sekadar perlombaan teknologi tercepat, tetapi perlombaan membangun legitimasi lingkungan di tengah krisis iklim.
Ketika Kecepatan Mulai Bertemu Tanggung Jawab Lingkungan
Transformasi menuju era mobil balap ramah lingkungan memang belum sempurna. Formula One masih menjadi olahraga dengan jejak karbon besar dan ketergantungan logistik global yang tinggi. Namun perubahan mulai terlihat dari cara tim balap memikirkan desain mobil, material, rantai pasok, hingga limbah produksi.
Laporan McLaren menunjukkan bahwa keberlanjutan kini mulai dipandang sebagai bagian dari performa, bukan hambatan bagi performa itu sendiri. Dan jika arah ini terus berkembang, motorsport mungkin menjadi laboratorium inovasi menuju era mobil balap ramah lingkungan di industri otomotif global.
