IndonesianJournal.id, Jakarta – Hubungan dagang antara Indonesia dan Tiongkok diprediksi akan semakin dalam pada tahun 2026. Hal ini sebagaimana yang dipaparkan di acara “Kick-off Partisipasi Indonesia untuk pameran internasional China-ASEAN Expo (CAEXPO) 2026”, di Jakarta, Jumat (13/3/2026) kemarin.
Berdasarkan data terbaru oleh staf perdagangan KBRI Beijing, Indonesia tetap menjadi penyokong utama kebutuhan industri Tiongkok, terutama untuk sektor mineral dan logam dasar.
Kebutuhan tinggi Tiongkok terhadap bahan baku ini sejalan dengan ambisi negara tersebut dalam memproduksi kendaraan listrik dan permesinan, yang kini menjadi komoditas ekspor utama mereka ke pasar global.
Selain sektor tambang, pemerintah Indonesia juga agresif membuka pintu ekspor untuk sektor hortikultura dan perkebunan. Data protokol ekspor menunjukkan tren positif dalam lima tahun terakhir dengan masuknya komoditas seperti Manggis, Buah Naga, Salak, Nanas, hingga produk olahan Porang ke pasar Tiongkok.
Kabar terbaru yang menjadi angin segar bagi petani lokal adalah status ekspor Durian Segar yang kini telah memasuki tahap final negosiasi protokol. Langkah ini menyusul keberhasilan ekspor Durian Beku yang protokolnya telah diteken pada Mei 2025 lalu.
Selain durian, primadona pasar Tiongkok juga terbuka lebar bagi berbagai komoditas unggulan Indonesia lainnya. Kelapa utuh serta minyak sawit beserta produk turunannya tetap menjadi pilar utama ekspor yang terus diburu oleh pasar Negeri Tirai Bambu tersebut.
Di sektor pertambangan, ketergantungan industri Tiongkok terhadap pasokan biji nikel serta mineral logam dasar dari Indonesia masih menunjukkan tren yang sangat kuat. Keragaman kekayaan alam ini pun semakin lengkap dengan tingginya minat konsumen terhadap berbagai produk pertanian spesifik. Produk-produk tersebut seperti halnya Manggis dan Nanas hingga komoditas Porang yang kian strategis di pasar internasional.
“Pemulihan sektor manufaktur serta kebijakan peningkatan konsumsi domestik di Tiongkok turut memperbesar peluang produk agrikultur tropis, makanan dan minuman olahan, perikanan, serta komoditas bernilai tambah dari Indonesia untuk masuk ke Tiongkok,” ujar Fajarini Puntodewi, Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional, Kementerian Perdagangan, yang melihat peluang besar tersebut.
Ajang CAEXPO ke-23 yang akan diselenggarakan secara megah pada 17 hingga 21 September 2026 di Nanning International Convention and Exhibition Center, diproyeksikan menjadi etalase utama bagi produk-produk dalam negeri. Indonesia telah menyiapkan strategi promosi komprehensif dengan menempati area paviliun seluas 2.000 meter persegi , yang secara khusus mendedikasikan Paviliun Komoditas untuk memamerkan produk-produk unggulan berorientasi ekspor.
Selain itu, melalui deretan perjanjian protokol yang terus diperbarui, pemerintah optimistis bahwa diversifikasi produk ekspor, baik bahan mentah menuju produk olahan dan hasil tani bernilai tambah, akan terus menyeimbangkan neraca perdagangan kedua negara. Fokus pada hilirisasi dan pemenuhan standar protokol internasional menjadi kunci utama bagi pelaku usaha Indonesia untuk memenangkan pasar Tiongkok yang sangat masif.

