IndonesianJournal.id, Jakarta – Sound system menjadi salah satu perangkat yang dibutuhkan dalam berbagai kegiatan di masyarakat, salah satunya adalah sebagai alat dakwah dan membantu berkumandangnya adzan di banyak masjid di seluruh dunia.
Indonesia dengan pemeluk agama Islam terbesar, menjadi salah satu negara yang memanfaatkan sound system untuk menjalankan berbagai kegiatan keagamaan, dari mulai pengajian, adzan, ceramah, bahkan membangunkan sahur saat bulan Ramadan. Sayangnya, sound system di masjid-masjid seringkali bermasalah dengan kualitas suara yang tidak nyaman didengar sehingga mengganggu masyarakat di sekitarnya.
Hal ini diakui dan diutarakan oleh Dr.(H.C.) Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla, Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia pada saat acara pembukaan Pelatihan Akustik Masjid pada Minggu, 25 Januari 2026 di Paragon Community Hub, Paragon 9, Jakarta Selatan.

Lebih jauh, Jusufl Kalla menerangkan, fungsi operator bukan hanya memperbaiki, namun posisi letak dan lingkungan dari sound system dan mic juga mempengaruhi.
“Usahakan jarak lingkup suara wilayah yang bisa dengar suara speaker dari masjid kita tidak terlalu jauh dan jangan terlalu keras. Bayangkan mereka yang sakit, baru beristirahat sepulang kerja dan mereka yang berbeda kepercayaan dengan kita menjadi tidak nyaman. Seperti di Mekah, 30 menit saja sudah selesai. Jadikan sound system bukan hanya menjadi pengingat, enak didengarkan, syahdu dan tidak mengganggu orang lain.” Lanjutnya.
Permasalahan sound system rusak semestinya menjadi perhatian dan diperbaiki agar apa yang disampaikan bisa didengar dengan baik oleh para jamaah dan masyarakat sekitar. Inilah yang menjadi salah satu faktor diselenggarakannya Pelatihan Akustik Masjid oleh Dewan Masjid Indonesia (DMI) bersama dengan Paragon Corp.
Setidaknya 100 pengurus masjid dari berbagai masjid di Jakarta menghadiri acara ini. Para peserta mengikuti diskusi dan mencari pemecahan masalah yang terjadi di masjid yang mereka kelola. Selain mendapatkan solusi dari permasalah sound system, para peserta juga diingatkan untuk menggunakan sound system secara bijak. Etika penggunaan speaker, standarisasi pengaturan sound system, hingga kapan waktu tepat penggunaannya.
Sementara itu, A. Miftahuddin Amin, EVP & Chief of People and Business Ecosystem Development ParagonCorp sekaligus Ketua Penataan Akustik DMI, menekankan pentingnya peningkatan kompetensi pengelola masjid sebagai kunci keberlanjutan program.
Berdasarkan data Sistem Informasi Masjid (SIMAS) Kementerian Agama, hingga 2024 tercatat lebih dari 800 ribu masjid dan musala di Indonesia. Namun, di banyak masjid, kualitas tata suara masih menghadapi tantangan, terutama dalam aspek kejelasan, kenyamanan, dan kesesuaian dengan fungsi ibadah. Studi The Perception of Sound Quality in Mosque (Sudarsono dkk., 2019) menunjukkan bahwa sistem akustik yang tidak ideal dapat memengaruhi kenyamanan jamaah serta efektivitas penyampaian pesan keagamaan.
“Dari 800.000 masjid dan mushola, baru 10 persen yang mendapatkan pelatihan aktivasi masjid. Kegiatan di masjid adalah mendengarkan, sementara sistem akustik masjid masih banyak yang harus diperbaiki, maka Paragon masuk untuk menggalakkan program perbaikan tersebut. Saat ini kita lakukan di DKI Jakarta, dan menyusul 10 kota seluruh Indonesia. Harapannya para peserta nantinya dapat memberikan efek domino dengan menyebarkan edukasi yang kita berikan.” papar Miftahuddin.
Melalui Program Penataan Akustik Masjid ini, DMI bersama para pemangku kepentingan, dengan dukungan ParagonCorp, berupaya mendorong terwujudnya masjid yang lebih nyaman, inklusif, dan profesional dalam pengelolaan tata suara, sekaligus menghadirkan dampak sosial yang berkelanjutan bagi umat di berbagai daerah di Indonesia. (Kintan)