Mengapa Perempuan Indonesia Masih Takut Skrining HPV? Intip Inovasi Deteksi Kanker Serviks dari Rumah

Indonesian Journal, Jakarta — Kanker serviks hingga kini masih menjadi salah satu momok terbesar bagi kesehatan reproduksi di tanah air. Fakta ini disampaikan dr. Astrid Fransisca Padang, Sp. OG, yang turut menggaungkan pentingnya skrining HPV bagi perempuan indonesia.

Spesialis Ginekologi tersebut mengutip data Globocan 2020 yang menempatkan kanker serviks di urutan kedua tertinggi untuk kasus kanker pada perempuan Indonesia. Padahal, jika dideteksi sejak dini, kanker serviks merupakan salah satu jenis kanker yang paling bisa dicegah dan disembuhkan.

“Skrining yang tepat di waktu yang tepat dapat mencegah terjadinya kanker,” ujar dr. Astrid dalam sesi bincang kesehatan di Prodia Tower, Minggu (24/5)

Lalu, apa yang menjadikan angka skrining preventif ini stagnan di 6,8 persen wanita Indonesia? 

Deteksi Dini: Memotong Siklus 20 Tahun Virus HPV

Sebagian besar kasus kanker leher rahim dipicu oleh infeksi Human Papillomavirus (HPV) risiko tinggi, khususnya Tipe 16 dan 18. Proses infeksi ini memakan waktu berkisar antara 3 hingga 20 tahun. Fasenya mulai dari paparan awal, fase infeksi menetap, hingga perubahan sel menjadi lesi pra-kanker (LSIL dan HSIL).

Proses panjang itu sebenarnya menjadi kunci utama pencegahan kanker serviks pada wanita. Alasan menunda skrining HPV pada wanita Indonesia hadir karena masih adanya dominasi faktor psikologis dan kultural.

“Rasa malu menjalani pemeriksaan genital, takut mengetahui hasil positif, serta ketidaknyamanan fisik saat proses medis berlangsung,” ungkap Astrid.

dr. Astrid Fransisca Padang, Sp. OG, turut menggaungkan pentingnya skrining HPV perempuan indonesia.
dr. Astrid Fransisca Padang, Sp. OG, turut menggaungkan pentingnya skrining HPV perempuan indonesia. Redaksi

Oleh karenanya, sebagian besar pasien baru datang ke fasilitas kesehatan ketika sudah memasuki stadium lanjut. 

Meskipun edukasi sudah masif dilakukan, cakupan deteksi dini di masyarakat masih menghadapi tembok besar yang bersifat psikologis dan kultural itu sendiri. 

Banyak perempuan enggan memeriksakan diri karena adanya rasa takut terhadap hasil pemeriksaan. Selain itu, rasa malu menjalani pemeriksaan genital secara konvensional dan ketidaknyamanan fisik saat proses medis sering kali jadi alasan menunda-nunda janji temu dengan dokter.

Di sisi lain, keterbatasan akses fasilitas kesehatan di beberapa wilayah sub-urban dan pedesaan turut memperpanjang daftar hambatan ini. Akibatnya, rantai penularan dan perkembangan virus di dalam tubuh berjalan tanpa terdeteksi.

Untuk menjembatani hambatan tersebut, dunia medis global kini mulai menggeser fokus metode pencegahan sekunder. Dari Pap Smear ke Primary Screening. Artinya, para ahli merekomendasikan HPV DNA Testing sebagai skrining utama sebelum berfokus melihat perubahan sel.

Metode berbasis molecular ini memiliki keunggulan medis yang jauh lebih progresif karena mampu mendeteksi keberadaan virus langsung. Standar baru ini telah didukung oleh berbagai guideline internasional dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).  

“Metode ini sangat efektif membantu dokter melakukan stratifikasi risiko pasien secara akurat,” tambah dokter obgyn tersebut.

Solusi Self-Sampling, Pengambilan Sampel Mandiri dari Rumah

Kabar baiknya, inovasi self-collection atau pengambilan sampel mandiri oleh pasien telah hadir di Indonesia. Secara ilmiah, metode self-sampling terbukti memiliki tingkat akurasi yang sama baiknya dengan pemeriksaan konvensional. WHO juga mendukung penuh pendekatan ini karena dinilai berpotensi besar memperluas cakupan target skrining kesehatan nasional.

Kolaborasi antara Roche dan Prodia menghadirkan layanan My HPV Test. Layanan berbasis aplikasi dan home service ini dirancang untuk menjawab kebutuhan para perempuan yang menginginkan privasi dan kenyamanan total.

Alur layanannya dibuat sangat praktis:

  1. Pengiriman Kit: Prodia mengirimkan kitbox pemeriksaan langsung ke alamat rumah pasien.
  2. Sampling Mandiri: Pasien melakukan pengambilan sampel sendiri di dalam kamar mandi rumah secara privat, aman, dan tanpa rasa sakit.
  3. Konfirmasi & Penjemputan: Setelah selesai, pasien cukup melakukan konfirmasi melalui Contact Center Prodia di nomor 1500 830, dan kurir khusus akan datang menjemput sampel untuk dibawa ke laboratorium.

Sebagai nilai tambah, layanan ini juga membebaskan biaya pengiriman dan penjemputan sampel, serta menyediakan fasilitas konsultasi hasil gratis bersama dokter.

Generasi Bebas Kanker Serviks Dimulai dari Langkah Kecil

Melalui kemudahan logistik medis ini, para ahli berharap tidak ada lagi alasan untuk menunda pemeriksaan kesehatan reproduksi. Menjaga kesehatan kini bisa dimulai dari langkah kecil yang privat, aman, dan nyaman. Pentingnya skrining HPV bagi perempuan indonesia dalam mewujudkan generasi masa depan yang bebas dari kanker serviks.

Namun, untuk benar-benar mengatasi alasan perempuan Indonesia menunda skrining HPV diperlukan jejaring kolaborasi masif untuk memiliki daya jangkau lebih luas. Dikombinasikan dengan inovasi teknologi self-sampling dan edukasi berkelanjutan, target eliminasi kanker serviks 2030 di Indonesia dapat terwujud.

“Rutin setahun sekali minimal dianjurkan skrining HPV secara mandiri di rumah,” tegas dr. Astrid Fransisca Padang.

Community Podcast

Latest articles

Related articles