Indonesian Journal, Jakarta — Keikutsertaan Pramono di Heat Roundtable New York menegaskan komitmen Jakarta pada aksi iklim yang dirasakan warga. Gubernur DKI Jakarta itu tampil sebagai pembicara utama dalam forum tersebut di New York, Amerika Serikat, Minggu (20/9).
Forum ini digelar bersama C40 Cities, Harvard University Salata Institute, dan Atlantic Council Climate Resilience Center. Sejumlah kepala daerah turut hadir, antara lain Wali Kota Paris dan Wali Kota Freetown.
“Aksi iklim harus memberikan manfaat nyata yang dapat dilihat dan dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari melalui transportasi yang lebih bersih, ruang publik yang lebih baik, energi yang lebih bersih, serta kualitas hidup yang lebih baik,” ujar orang nomor satu di Jakarta itu.
Ia memaparkan tantangan Jakarta sebagai kota metropolitan dengan mobilitas tinggi dan produksi sampah besar. Setiap hari, sekitar empat juta orang bergerak keluar masuk Jakarta dari wilayah penyangga, terutama pada jam sibuk. Produksi sampah Jakarta turut mencapai 9.000 ton per hari.
“Persoalan kemacetan, polusi udara, dan sampah tidak berdiri sendiri. Ketiganya berkaitan langsung dengan mobilitas, kesehatan, serta kualitas hidup masyarakat. Karena itu, kebijakan iklim Jakarta diarahkan agar menghasilkan perubahan yang dapat dirasakan warga,” jelas mantan Sekretaris Kabinet tersebut.
Strategi Mengatasi Persoalan Kota Jakarta
Salah satu upaya mengatasi persoalan itu dilakukan lewat transformasi transportasi publik Jakarta. Integrasi MRT, LRT, Transjakarta, Transjabodetabek, dan kereta komuter membuat konektivitas transportasi publik Jakarta mencapai sekitar 93 persen.
“Kami sedang mengubah cara masyarakat bergerak melintasi Jakarta. Kami ingin menyediakan alternatif yang andal dan terjangkau selain kendaraan pribadi, sekaligus mengurangi kemacetan dan emisi,” ujarnya.
Pemprov DKI Jakarta menargetkan jaringan MRT bertambah dari 15,7 kilometer menjadi 46,5 kilometer pada 2034. Jaringan LRT ditargetkan berkembang hingga 75 kilometer pada 2029, seiring elektrifikasi armada Transjakarta. Hingga 2026, Transjakarta mengoperasikan sekitar 4.792 armada, termasuk 500 bus listrik.
Selain transportasi, Jakarta memperkuat sistem pengelolaan sampah dari skema kumpul-angkut-buang menjadi pilah-angkut-olah. Sejak 1 Agustus 2026, TPST Bantargebang hanya menerima sampah residu, bukan sampah mentah.
Bersama pemerintah pusat, Jakarta turut mengembangkan dua fasilitas waste-to-energy untuk mengolah sampah menjadi energi.
“Kita tidak boleh melihat aksi iklim sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan masyarakat. Ukurannya sederhana, apakah udara menjadi lebih bersih, perjalanan menjadi lebih mudah, ruang publik menjadi lebih baik, dan lingkungan menjadi lebih sehat,” kata Pramono.
Gubernur DKI Jakarta itu juga berkomitmen untuk berbagi pengalaman dengan kota-kota lainnya di dunia.
“Jakarta siap berbagi praktik baik, belajar dari kota-kota lain, dan mewujudkan tujuan iklim bersama menjadi solusi yang praktis,” tambahnya.
Partisipasi Pramono di Heat Roundtable ini menjadi bagian dari rangkaian kunjungan kerja ke New York untuk menghadiri U20 Mayors Summit 2026. Forum ini mempertemukan pemimpin kota dunia untuk bertukar pengalaman soal ketahanan iklim perkotaan.

