Indonesian Journal, Jakarta – Dengan dukungan dari Bakti Budaya Djarum Foundation, kelompok teater legendaris, Teater Koma, mempersiapkan produksi ke-273 yang akan dipentaskan dari 30 Juli hingga 2 Agustus 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Selatan.
Dengan kembali mementaskan ‘Rumah Sakit Jiwa’, yang sebelumnya dipentaskan 35 tahun yang lalu, Teater Koma ingin mengajak para penikmat seni untuk merefleksikan berbagai persoalan kemanusiaan, relasi kuasa dan dinamika sosial yang tetap relevan hingga kini.
“Seni pertunjukan teater tetap memiliki tempat yang istimewa, karena mampu menghadirkan pengalam menonton yang berbeda, yang dapat dirasakan penonton. Ada interaksi emosi dan rasa antara pemain dan penonton yang terjalin dari atas panggung. Ini yang membuat pertunjukan panggung masih menjadi pilihan buat dinikmati hingga saat ini,” tutur Billy Gamaliel, Program Manager Bhakti Budaya Djarum Foundation dalam jumpa pers menjelang pementasan ‘Rumah Sakit Jiwa’ yang digelar pada bilangan Jakarta Selatan, Jum’at (10/7).
Selain itu Billy juga menyampaikan dukungan Djarum Foundation untuk pementasan naskah ‘Rumah Sakit Jiwa’, “dukungan Djarum Foundation untuk ‘Rumah Sakit Jiwa’ atau pun karya-karya semacamnya, tidak hanya sebatas kualitas dan artistik, tapi juga mengajak penonton merefleksikan berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan dengan harapan semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda yang mengenal teater sebagai sebuah pengalaman budaya yang bermakna dan layak dinikmati.”
‘Rumah Sakit Jiwa’ berkisah tentang seorang dokter baru di rumah sakit jiwa yang dipimpin Profreso Sidarta. Berbekal keyakinan bahwa pendekatan yang penuh persahabatan mampu membatu proses penyembuhan pasien. Sebuah metode baru diterapkan yang berlahan merubah kehidupan di rumah sakit jiwa. Metode ini akhirnya menjadi pemicu konflik dengan sistem yan selama ini sudah berjalan.
Meski diproduksi untuk kedua kalinya sang sutradara, Rangga Riantiarno mengakui tidak ingin karyanya kali ini disamakan dengan produksi 35 tahun yang lalu. “Walau pun ada hal-hal yang sama persis, namun banyak hal seperti pembangunan karakter para tokoh tidak sama dengan karya 35 tahun yang lalu. Termasuk objek obeservasi tokoh yang dilakukan pemain,” ungkap Rangga.
Rumah Sakit Jiwa ditulis oleh N. Riantiarno dan disutradarai oleh Rangga Riantiarno. Pementasan ini turut didukung oleh tim kreatif lintas disiplin yang menghadirkan tata artistik, musik, tata cahaya, tata suara, kostum, multimedia, serta puluhan pemain lintas generasi yang bersama-sama menghidupkan kembali salah satu karya penting dalam perjalanan Teater Koma. Pementasan kali ini juga didukung tata musik garapan Fero A. Stefanus yang dirancang mengikuti dinamika emosi setiap adegan. Melalui komposisi yang dibangun khusus untuk Rumah Sakit Jiwa, musik menjadi elemen yang memperkuat atmosfer sekaligus mengiringi perjalanan emosional para tokohnya.
