Indonesian Journal, Banyumas — Sebanyak 95 generasi muda Banyumas, Cilacap, Purbalingga mengikuti bimbingan teknis wirausaha kreatif kehutanan dan digitalisasi pemasaran produk lebah trigona. Kegiatan ini berlangsung di Wanawiyata Widyakarya Petani Muda Prawita, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah (18-20 Agustus 2026).
Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri), Kementerian Kehutanan, membangun program ini khusus bagi anak muda dengan minat dan aktivitas di bidang kewirausahaan kreatif kehutanan.
“Kami ingin generasi muda melihat bahwa menjaga hutan dan membangun kesejahteraan dapat berjalan bersama,” ujar Luckmi Purwandari, Kepala Pusgenri.
Luckmi juga menambahkan bahwa keterlibatan generasi muda dalam pembangunan kehutanan perlu terus diperluas. Menurutnya, hal ini termasuk pengetahuan, keterampilan, jejaring, dan ruang untuk mengembangkan usaha produktif yang tetap menjaga kelestarian sumber daya hutan.
Lebah Trigona atau lebah tanpa sengat dipilih sebagai salah satu komoditas yang dikembangkan dalam pelatihan ini. Nilai ekonominya sangat bergantung pada keberadaan vegetasi dan ekosistem yang sehat. Karakter itu membuat usaha budidaya Trigona berpotensi menciptakan hubungan yang saling menguatkan antara kelestarian hutan dan peningkatan ekonomi masyarakat sekitar.
Selain teknik budidaya, peserta juga dibekali kemampuan pengembangan produk, digitalisasi pemasaran, pemanfaatan media sosial, hingga penguatan branding. Selain memberi nilai tambah, diharapkan para peserta mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Menurut Luckmi, kedekatan anak muda dengan teknologi dan media sosial perlu menjadi kekuatan untuk mengangkat produk kehutanan.
“Tidak sekadar menghasilkan produk yang baik, tetapi juga mampu membangun cerita, merek, dan pasar yang baik,” terangnya.
Kegiatan di Banyumas merupakan bagian dari ekosistem Generasi Pelestari Hutan (Genries) yang dibangun Kementerian Kehutanan. Sejak 2025 hingga 2026, tercatat 421 generasi muda telah mengikuti pembinaan kewirausahaan kreatif kehutanan dengan berbagai rintisan usaha berbasis potensi hutan.
Kementerian Kehutanan mendorong agar pembinaan tidak berhenti setelah pelatihan selesai. Peserta diharapkan membangun jejaring lanjutan dengan pemerintah daerah, penyuluh, pelaku usaha, komunitas, dan akademisi. Selama tiga hari pelatihan diharapkan peserta pelatihan wirausaha kreatif kehutanan mampu menciptakan usaha berkelanjutan, tidak berhenti di lembaran sertifikat belaka.
