IndonesianJournal.id, Tangerang – Di tengah pesatnya perkembangan industri berbasis riset dan pengujian, pameran laboratorium terbesar di Indonesia, Lab Indonesia 2026, justru tidak digelar setiap tahun. PT. Pamerindo Indonesia selaku organiser menyatakan keputusan ini bukan tanpa alasan. Pameran ini berangkat dari realitas siklus inovasi teknologi laboratorium yang membutuhkan waktu untuk menunjukkan perkembangan signifikan.
Kristi Wulandari, Deputy Event Director, menjelaskan bahwa agenda biennale didasarkan pada hasil survei langsung kepada para exhibitor dan pelaku industri.
“Sebenarnya kita punya rencana tiap tahun. Tapi setelah kita melakukan survei ke exhibitor, update teknologi laboratory itu tidak terlalu kelihatan. Jadi makanya setiap 2 tahun dilaksanakan, karena dalam jangka waktu itu peningkatannya akan lebih terlihat,” ujar Kristi dalam wawancara bersama Indonesian Journal.
Menurutnya, karakter industri laboratorium yang erat kaitannya dengan sektor strategis. Ia menyebutkan ada seperti farmasi, pendidikan, rumah sakit, makanan, hingga manufaktur. Mereka membuat inovasi teknologi yang tidak berkembang secara instan, melainkan bertahap dan terukur.
“Semua sektor itu memakai pengujian, semua memakai laboratory. Jadi lebih baik dua tahunan untuk maintain teknologi yang lebih update,” tambahnya.
Pendekatan ini selaras dengan skala dan ambisi Lab Indonesia 2026 yang resmi dibuka di ICE BSD City pada 15–17 April 2026. Pameran ini menghadirkan lebih dari 305 perusahaan dari 16 negara dan menampilkan sedikitnya 921 inovasi teknologi laboratorium global .
Dengan tema “Shaping the Future of Indonesia’s Laboratory Industry: Innovation, Standards, and Global Competitiveness,” Lab Indonesia tidak hanya menjadi ajang pamer teknologi. Kristi hendak jadikan ini sebagai platform kolaborasi lintas sektor yang mempertemukan industri, akademisi, hingga regulator .
Kristi menegaskan bahwa kualitas konten dan relevansi teknologi menjadi prioritas utama dibanding sekadar frekuensi penyelenggaraan.
Sustainability Bukan Sekadar Simbol
Selain fokus pada inovasi teknologi, Lab Indonesia 2026 juga memperkuat komitmennya terhadap keberlanjutan. Namun, menurut Kristi, keterlibatan komunitas tuna netra hanyalah salah satu bagian kecil dari strategi besar sustainability yang diterapkan penyelenggara.
“Sebenarnya bukan di tuna netra itu fokus utamanya. Itu hanya salah satu dari target sustainability. Yang utama, kita bekerja sama dengan exhibitor untuk menggunakan material booth yang bisa reuse atau recycle,” jelasnya.
Program ini dikenal dengan konsep better-stand, yang mendorong penggunaan material ramah lingkungan dalam desain booth pameran. Selain itu, digitalisasi juga menjadi langkah konkret untuk mengurangi jejak karbon.
“Dari sisi organiser, kita sudah digitalisasi. Jadi tidak ada print-print-an,” tambahnya.
Tak hanya itu, aspek inklusivitas juga menjadi bagian penting dari pendekatan keberlanjutan. Lab Indonesia 2026 menghadirkan pameran yang ramah disabilitas, termasuk melibatkan tenaga kerja dari kelompok disabilitas.
“Kita juga menggunakan temporary staff dari disabilitas, dan menciptakan pameran yang ramah untuk mereka,” ujarnya.
Khusus untuk komunitas tuna netra, keterlibatan mereka diwujudkan melalui aktivasi layanan pijat gratis di area pameran sebagai bagian dari wellness experience bagi pengunjung.
Inisiatif ini sejalan dengan program Wellness Corner Area dalam pameran, yang menghadirkan layanan kesehatan dan relaksasi, termasuk terapi dari komunitas pijat tunanetra
Dua Tahunan sebagai Strategi, Bukan Keterbatasan
Dengan mempertimbangkan siklus inovasi teknologi dan kebutuhan industri, penyelenggaraan dua tahunan justru menjadi strategi untuk menjaga kualitas dan relevansi pameran.
Alih-alih menghadirkan pembaruan yang minim setiap tahun, Lab Indonesia memilih menghadirkan lonjakan inovasi yang lebih signifikan dalam interval waktu yang lebih panjang. Pendekatan ini sekaligus memperkuat posisinya sebagai platform strategis dalam membangun ekosistem industri laboratorium berkelanjutan di Indonesia.
