IndonesianJournal.id, Jakarta – Memeriahkan hari Kartini tahun ini ParagoCorp menghadirkan 5 perempuan yang berbicara tentang kekuatan di Ruang Refleksi yang di Wisma Habibie & Ainun. Kegiatan yang dilaksanakan tetap pada hari Selasa (21/4) ini diisi dengan sesi diskusi “Her Strength, Her Light: A Journey through Doubt, Growth, and Becoming”.
Sesi ini menghadirkan Retno Marsudi, Susy Susanti, Nikita Willy, Nadia Habibie, serta dr. Sari Chairunnisa, yang dipandu oleh Marissa Anita, dalam diskusi reflektif mengenai kekuatan yang terbentuk dari perjalanan hidup masing-masing.
Dalam siaran persnya, yang diterima tim redaksi IndonesianJournal.id pada hari yang sama, dr. Sari Chairunnisa, Deputy CEO and Chief R&D Officer ParagonCorp, menyampaikan, “Berbagai studi menunjukkan bahwa mayoritas perempuan memiliki motivasi untuk berkembang, namun tidak semuanya memiliki tingkat kepercayaan diri yang cukup untuk melangkah. Sebagai contoh, riset Mestara (2025) menunjukkan bahwa 83% perempuan ingin berkembang, namun hanya sekitar 30% yang merasa cukup percaya diri untuk mengambil langkah tersebut.”
“Sering kali perempuan terlihat tenang dan mampu, tetapi di dalamnya tetap ada pertanyaan: apakah saya sudah cukup? Saya juga pernah berada di titik itu. Namun saya belajar bahwa keraguan bukan sesuatu yang harus dihilangkan, melainkan dihadapi dan justru dari situlah kita bertumbuh, sekaligus tetap rendah hati,” lanjut dr. Sari.
Dalam pernyataannya, Retno Marsudi menyampaikan bahwa sering sekali perempuan merasa ragu akan kemampuan dirinya sendiri. Sehingga sering muncul ungkapan-ungkapan ‘saya sudah cukup belum ya?’ atau ‘saya masih bisa lebih maju ga ya?’. Untuk Retno pertanyaan-pertanyaan seperti ini justru menjadi penyemangat dirinya untuk terus berkembang.
Pada kesempatan yang sama, mantan pebulutangkis Indonesia, Susi Susanti menceritakan bagaimana dia tumbuh di dunia yang didominasi laki-laki. Namun hal ini tidak membuatnya menyerah, tapi memotifasi Susi untuk terus maju dan mengukir prestasi.
Sementara itu, Nikita Willy berbagi kisahnya sebagi publik figur, “Hidup di ruang publik membuat kita sering dihadapkan pada ekspektasi dan penilaian orang lain. Namun di setiap fase kehidupan, saya belajar untuk tetap jujur pada diri sendiri dan konsisten dengan apa yang saya jalani.”
Melengkapi perspektif tersebut, Nadia Habibie menyampaikan, “Privilege bukan hanya tentang kesempatan, tetapi juga tanggung jawab bagaimana kita bisa memberi dampak bagi sekitar.”
Kelima tokoh perempuan diatas memberikan gambaran masing-masing bagaimana kondisi apa pun tidak ada alasan seorang perempuan untuk menyerah, tapi tetap berjuang untuk mencapai tujuan masing-masing.
