Dua Bulan, Empat Unit Sehari: Cerita di Balik Sapu Plastik Daur Ulang Petukangan Utara

Indonesian Journal, Jakarta — Di sudut RT 005/02, Petukangan Utara, Jakarta Selatan, tumpukan botol plastik bekas memiliki nasib berbeda. Terkumpul secara rapi di samping pos kamling, berdiri meja sederhana di sampingnya yang menopang 3 mesin dengan fungsi sebagai pemotong dan pemanas.

Tim redaksi Indonesian Journal.id bertemu langsung dengan Saifulloh, selaku ketua RT setempat. Ia mengakui bahwa mesin-mesin sederhana itu bekerja untuk menciptakan sebuah produk kerajinan rumah tangga (DIY). Ditangannya beserta warga setempat, botol-botol terkumpul diubah jadi dua jenis produk : sapu lidi untuk jalan dan sapu kasur.

Usaha ini baru berjalan sekitar dua bulan. Masih kecil, masih dalam tahap mencari bentuk, tapi cerita dibaliknya kaya pengalaman, unik, dan berbeda.

Dua Menit Satu Lidi, Proses Daur Ulang

Keprihatinan Saifulloh akan menumpuknya sampah botol plastik menjadi alasan utama. Begitu Instruksi Gubernur No.5 tahun 2026, tentang pemilahan sampah lahir, karyawan farmasi itu tancap gas dengan ide yang dimilikinya.

Uji coba dilakukan selama sebulan bersama warga, terutama Budi selaku perancang mesin produksi. Melalui program sedekah sampah sebagai pemasok bahan, mereka akhirnya mendapat standar produk yang cocok.

Ketua RT 005/02 Petukangan Utara mengolah botol plastik bekas menjadi produk sapu daur ulang.
Saifulloh, Ketua RT 005/02 (kiri), dan Budi (kanan) warga Petukangan Utara, perancang mesin pengolah botol plastik bekas menjadi produk sapu daur ulang. Dok. Sandz

Botol plastik yang dipakai komunitas RT.05/02 tidak sembarangan. Saifulloh memilih botol dari merek tertentu, khususnya Le Minerale ukuran 600 ml dan Jeruk Nipis Madu. Baik Saifulloh maupun Budi mengaku karena bentuknya bening dan tidak berlekuk sehingga memudahkan mesin memproduksi sesuai standar.

“Sebenarnya kalau kita fokus produksi, semalaman bisa menghasilkan empat unit sapu,” ungkap Saifulloh.

Prosesnya dimulai dengan meraut botol menggunakan pisau dari mata rautan, lalu bagian yang sudah dirapikan dimasukkan ke alat pemanas hasil modifikasi dari alat lem tembak. 

Setelah dipanaskan, plastik yang melunak dipotong hingga menjadi lidi sepanjang 70 sentimeter. Prosesnya kurang lebih dua menit per lidi, dan satu sapu membutuhkan sekitar 150 lidi. Dalam waktu dua hingga tiga jam kerja, biasanya dihasilkan empat unit sapu.

Alat pemanas itu sendiri hasil rancangan seorang warga yang sehari-hari bekerja sebagai pengemudi ojek online. Budi dengan keterampilan perbengkelannya turut membantu di sela waktu luangnya di luar jam narik.

Untuk pasokan botol plastik sangat berlimpah. Selain sedekah sampah warga Tim Saifulloh mendapatkan sumber dari GOR bulu tangkis setempat, dan pembelian dari Rumah Sakit Petukangan. Program ini mendapat dukungan moral maupun penjualan dari warga, pemuda dan kelurahan setempat, hingga netizen budiman. 

Kenapa 35 Ribu?

Satu sapu dijual sekitar Rp35.000, harga yang memantik perdebatan di kolom komentar video yang viral di media sosial. Sejumlah warganet membandingkannya dengan sapu lidi konvensional yang bisa didapat seharga Rp15.000 di beberapa daerah.

Saifulloh punya penjelasan sendiri. Menurutnya, produk berbasis daur ulang memang punya struktur biaya berbeda dibanding sapu lidi alami yang bahannya sangat melimpah di daerah tertentu. 

Ia juga mengklaim produknya lebih tahan lama dan tidak mudah patah. Sebagai jaminan produk ia mengungkapkan lidi yang bengkok dapat diluruskan kembali menggunakan hair dryer. 

Mesin sederhana rakitan warga Petukangan Utara, Jakarta Selatan, untuk mengubah botol plastik bekas menjadi serat lidi sapu.
Mesin sederhana rakitan warga Petukangan Utara, Jakarta Selatan, untuk mengubah botol plastik bekas menjadi serat lidi sapu. Dok. Sandz

Margin dari penjualan disebut sekitar 20 persen, dengan modal awal usaha berkisar Rp1,5 hingga Rp2 juta. Struktur pembiayaan sudah mencakup bahan, biaya pembuatan mesin, upah pekerja, dan lain sebagainya.

Harga ini tetap layak dipertimbangkan sendiri oleh calon pembeli. Secara kategori, produk daur ulang merupakan produk inovatif terkini. Sapu buatan RT.02/05 merupakan rintisan dengan proses manual, yang mulai mendapat dukungan massal.

Standar Kerja dan Izin Usaha yang Masih Rintisan

Ada beberapa hal yang jujur perlu disampaikan, bukan untuk mengurangi semangat usaha ini, tapi supaya dukungan yang diberikan tepat sasaran.

Usaha ini belum punya NIB. Sempat ada tawaran baik dari pihak kelurahan maupun komentar dari netizen budiman. Namun Saifulloh memilih menunggu sampai pasar lebih stabil sebelum resmi mengurus legalitas usaha. 

Standar keselamatan kerja saat proses pemanasan plastik juga masih dalam tahap pertimbangan dan belum baku. Hal ini mengingat usia usaha yang baru dua bulan. Ini bagian yang wajar dari usaha rintisan, tapi juga jadi salah satu area yang paling membutuhkan dukungan, terutama terkait edukasi keselamatan kerja.

Soal keterlibatan warga, program ini digagas dan digerakkan oleh Saifulloh selaku Ketua RT. Dukungan penuh warga sekitar termasuk anak muda setempat yang turut membantu produksi dari proyek daur ulang ini. Program ini juga disiarkan lewat rapat dan grup chat RT sebagai bentuk keterbukaan kepada warga sekitar.

Dari Media Sosial Menuju E-commerce

Untuk saat ini, penjualan masih mengandalkan permintaan langsung dan media sosial. Saifulloh berencana membuka akun di platform e-commerce untuk mempermudah pembelian, dan tengah mengajukan proposal ke berbagai entitas. Bulan ini ia menyusun strategi mengikuti kompetisi ramah lingkungan, dan mendekati perusahaan-perusahaan sekitar termasuk Paragon Corp.

“Saya juga berharap dalam lima tahun ke depan bisa memberdayakan setidaknya 20 warga dengan jumlah alat produksi yang terus bertambah,” ujarnya.

Kalau pasar sudah lebih stabil, usaha ini rencananya akan didaftarkan secara resmi sebagai badan usaha.

Inovasi yang Layak Didukung

Ini bukan cerita tentang inovasi yang sudah sempurna. Ini cerita tentang warga yang mencoba berbuat sesuatu terhadap limbah plastik di lingkungannya sendiri. Dengan alat seadanya, modal terbatas, disertai semangat belajar sepanjang jalan, dukungan warga dan netizen budiman justru melimpah cepat.

Bagi Anda yang ingin mendukung, bentuknya bisa sederhana: membeli produknya, membantu menyebarkan informasi ini ke lingkungan sekitar. Atau bagi yang punya keahlian di bidang keselamatan kerja maupun pemasaran, uluran tangan berupa masukan akan sangat berarti bagi usaha rintisan seperti ini.

Produk dapat dilihat melalui akun Instagram @saifulneh. Informasi pembelian melalui platform e-commerce akan menyusul sesuai pembaruan dari pengelola usaha.

Community Podcast

Latest articles

Related articles