Layar Digi Perluas Model Bisnis Bioskop Mini dari Alfamart ke Pasar Rumput

Indonesian Journal, Jakarta — Jaksinema di Rumah Susun Pasar Rumput, Tebet, Jakarta Selatan, resmi dibuka Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno pada Senin (24/8/2026). Bioskop mini berkapasitas 43 kursi ini ternyata bukan konsep orisinal milik Perumda Pasar Jaya. Ini adalah babak kedua dari model bisnis yang sudah lebih dulu dijalankan Layar Digi.

Layar Digi adalah perusahaan micro cinema yang awalnya membangun bioskop mini di lantai dua gerai Alfamart. Sebelum masuk ke Pasar Rumput, mereka lebih dulu menjalankan proyek percontohan di Alfamart Agricola. Konsep itu sempat mendapat dukungan langsung dari Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky pada awal 2026.

Alasannya, hanya sekitar 20 persen kabupaten atau kota di Indonesia yang memiliki akses hiburan film layar lebar.

Dari Mitra Swasta ke Aset Pemerintah

Perpindahan mitra inilah yang membuat langkah Layar Digi di Pasar Rumput layak dicermati sebagai strategi bisnis. Ini bukan sekadar peresmian fasilitas baru semata. Jika fase pertama menumpang ruang milik korporasi ritel swasta, fase kedua ini menumpang aset badan usaha milik daerah.

Direktur Utama Perumda Pasar Jaya, Agus Himawan Widyanto, menyebut Jaksinema Pasar Rumput berada di area Tower 3. Lokasi ini terhubung langsung dengan Jakmart setempat. Ia menegaskan konsep ini akan dikembangkan lebih lanjut ke berbagai pasar lain lewat kerja sama berkelanjutan dengan Layar Digi.

“Semoga ini bisa menjadi salah satu upaya diversifikasi bisnis kami, menghadirkan ruang hiburan yang terjangkau bagi masyarakat. Sekaligus memperkuat posisi pasar tradisional sebagai kawasan hunian modern, terintegrasi dan relevan dengan kebutuhan warga Jakarta masa kini,” ujarnya, dikutip dari Beritajakarta.id, Senin (24/8/2026).

Model kemitraan semacam ini menguntungkan kedua pihak tanpa investasi besar di muka. Layar Digi tidak perlu membangun gedung bioskop dari nol. Pemilik aset, baik Alfamart maupun Perumda Pasar Jaya, mendapat nilai tambah dari ruang yang sebelumnya kurang termanfaatkan.

Target Ekspansi yang Perlu Dipertanyakan

Langkah ekspansi micro cinema Layar Digi ke kawasan Perkotaan Menandai Dinamika menarik dalam peta penetrasi bioskop mini di Indonesia. Konsep awalnya dirancang untuk menjangkau wilayah minim akses bioskop, terutama kota kecil dan desa. Rencana awal bahkan menyasar hingga 50 kota di Indonesia.

Chief Executive Officer Layar Digi, Victor Timothy, menyebut kolaborasi awal perusahaan dengan Alfamart sebagai langkah strategis. Misinya adalah membuka akses hiburan bagi seluruh lapisan masyarakat.

“Hiburan tidak seharusnya bersifat eksklusif. Lewat kolaborasi ini, kami ingin menjembatani kesenjangan akses hiburan sekaligus memperkuat ekosistem kreatif Indonesia,” katanya, dikutip dari IDXChannel (23/2/2026).

Jakarta sendiri bukan wilayah dengan kesenjangan akses bioskop seperti dimaksud misi awal tersebut. Ibu kota sudah memiliki jaringan bioskop konvensional yang tersebar luas.

Ekspansi ke Rusun Pasar Rumput menunjukkan pergeseran dari misi awal itu. Layar Digi kini bergerak dengan logika bisnis yang lebih konvensional. Sasarannya adalah titik keramaian dengan kepadatan penduduk tinggi seperti rumah susun kota besar.

Pergeseran ini bukan berarti keliru secara bisnis. Rumah susun dengan populasi padat dan daya beli menengah bawah tetap jadi pasar yang masuk akal. Namun pergeseran ini layak dicatat sebagai perubahan arah strategi, bukan kelanjutan linear dari misi awal.

Harga Tiket Bioskop Mini di Rusun Jakarta

Sebagai bagian dari strategi menjangkau segmen menengah bawah, harga tiket ditetapkan terjangkau. Tiket dibanderol Rp15.000 pada hari biasa dan Rp20.000 pada akhir pekan. Harga ini jauh di bawah rata-rata tiket bioskop jaringan besar di Jakarta.

Bioskop jaringan besar di Jakarta umumnya mematok harga Rp35.000 hingga Rp60.000, tergantung lokasi dan format studio. Sistem pembelian tiket di Jaksinema Pasar Rumput juga dirancang mengikuti kebiasaan digital warga urban. Tiketnya bernama JXCine, dijalankan lewat teknologi vending machine.

Mesin ini terintegrasi dengan pembayaran QRIS perbankan, sehingga transaksi berlangsung tanpa loket konvensional. Kombinasi harga terjangkau dan sistem digital ini konsisten dengan pola bisnis Layar Digi di Alfamart Agricola. Mereka mengandalkan efisiensi teknologi ketimbang investasi fisik besar.

Prospek ke Depan

Perumda Pasar Jaya menyebut Jaksinema Pasar Rumput sebagai langkah awal. Rencana pengembangan bioskop serupa disiapkan untuk pasar dan rumah susun lain di Jakarta. Wagub Rano Karno turut berharap konsep ini hadir di setiap rumah susun se-Jakarta.

Jika rencana itu terealisasi, Layar Digi akan punya dua jalur ekspansi paralel. Satu lewat jaringan minimarket swasta, satu lagi lewat aset pemerintah daerah. Pola ekspansi ganda inilah yang membuat model bisnis Layar Digi layak terus dipantau.

Pertanyaannya, apakah dua jalur ini akan saling melengkapi atau justru berebut target pasar yang sama di kota besar seperti Jakarta?

Community Podcast

Latest articles

Related articles