Lebih Dari Fragrance, ParagonCorp Temukan Potensi Baru Nilam Aceh untuk Inovasi Skincare

Indonesian Journal, Jakarta – Kekayaan alam Indonesia memang tidak pernah abis buat di ekplor untuk memenuhi kebutuhan manusia. Salah satunya Nilam Aceh oleh ParagoCorp dan Atsiri Research Center Universitas Syiah Kuala (ARC USK) diekplorasi lebih lanjut untuk menemukan manfaat lain dari nilam dari sekedar menjadi bahan baku pembuatan fragrance.

Sebagai purposeful beauty tech company, ParagonCorp menempatkan rasa ingin tahu ilmiah atau scientific curiosity sebagai bagian penting dari proses inovasi. Bukan hanya menggunakan apa yang telah diketahui, tetapi terus mengajukan pertanyaan baru mengenai apa yang masih dapat dipahami, diuji, dan dikembangkan dari sumber daya yang tersedia.

Berpegang pada satu faham, bahwa  satu bahan alam dapat menyimpan lebih dari satu kemungkinan ketika terus dipelajari melalui pendekatan ilmiah, ParagonCorps bersama ARC USK memperluas scientific exploration terhadap nilam Aceh untuk memahami potensi lain yang dapat dikembangkan bagi aplikasi kosmetik, termasuk skincare. Melalui penelitian terhadap patchouli alcohol crystal, komponen yang berasal dari minyak nilam Aceh dan tengah dikaji sebagai kandidat natural active ingredient.

Sari Chairunnisa, Sp.DVE, FINSDV, Deputy CEO and Chief R&D Officer ParagonCorp mengatakan, “dalam riset, satu pengetahuan sering kali membuka pertanyaan berikutnya. Ketika sebelumnya kami mempelajari patchouli dalam konteks fragrance, muncul pertanyaan lain: apakah masih ada potensi dari bahan yang sama yang belum kita pahami? Bagi ParagonCorp, rasa ingin tahu seperti inilah yang mendorong research untuk terus bergerak.”

Dalam kolaborasi ini, ARC USK membawa keahlian dalam penelitian nilam, minyak atsiri, dan bahan alam, sementara ParagonCorp membawa kapabilitas riset dan pengembangan kosmetik serta pemahaman terhadap kebutuhan industri beauty. Pertemuan keduanya membuka ruang untuk mengeksplorasi karakteristik dan potensi patchouli alcohol crystal secara lebih mendalam sebelum menentukan kemungkinan pengembangan selanjutnya.

“Yang menarik dari eksplorasi bahan alam adalah kita tidak pernah benar-benar selesai hanya dengan mengetahui satu manfaatnya. Ketika kita memahami suatu komponen lebih dalam, selalu ada kemungkinan muncul pertanyaan baru yang dapat membawa penelitian ke arah yang berbeda. Karena itu, kami melihat nilam bukan hanya sebagai komoditas, tetapi sebagai sumber pengetahuan dan peluang inovasi,” ujar Syaifullah Muhammad, Kepala Atsiri Research Center Universitas Syiah Kuala (ARC USK).

Penelitian terhadap patchouli alcohol crystal saat ini masih berada dalam tahap eksplorasi. Berbagai potensi yang ditemukan tetap membutuhkan pengujian dan validasi ilmiah lebih lanjut. Dengan demikian, eksplorasi ini belum diarahkan pada kesimpulan mengenai manfaat final maupun klaim produk, melainkan menjadi bagian dari proses membangun pemahaman ilmiah yang lebih kuat.

Dari Aceh, perjalanan nilam pun membuka kemungkinan cerita yang lebih panjang—dari sumber daya lokal, menjadi objek penelitian, hingga berpotensi menghasilkan pengetahuan dan inovasi baru bagi industri beauty Indonesia.

Community Podcast

Latest articles

Related articles