Pengembangan SDM Halal Jadi Kunci Kesiapan Indonesia di Industri Halal Dunia

Indonesian Journal, Jakarta — Kementerian Perindustrian menegaskan pengembangan SDM halal sebagai salah satu pilar strategis menuju posisi Indonesia sebagai pusat industri halal dunia. Hal ini disampaikan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita pada pembukaan Industrial Festival x Halal Indo 2026 di ICE BSD Tangerang.

“Berbekal modal utama ini, Indonesia harus bertransformasi dari sekadar pasar menjadi produsen dan pemain utama industri halal dunia,” ungkap Agus. 

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa transformasi itu membutuhkan kesiapan sumber daya manusia, bukan hanya infrastruktur industri.

Posisi Indonesia di industri halal dunia diukur lewat State of the Global Islamic Economy Report atau SGIER. Laporan tahunan ini disusun oleh DinarStandard, lembaga riset yang berbasis di Dubai sejak 2013.

SGIER menilai ekosistem ekonomi Islam di berbagai negara lewat lima indikator utama. Kelima indikator itu adalah finansial, regulasi halal, kesadaran masyarakat, sosial, dan inovasi.

Dua dari lima indikator tersebut, yakni kesadaran masyarakat dan aspek sosial, secara langsung mencerminkan sisi non-ekonomi dari kesiapan sebuah negara. Semakin tinggi kesadaran dan partisipasi sosial masyarakat terhadap produk halal, semakin kuat posisi negara itu di penilaian SGIER.

Berdasarkan rilis ini, Indonesia menempati peringkat keempat dalam ekosistem industri halal dunia, di bawah Malaysia, UEA, dan Arab Saudi. Peringkat ini menunjukkan bahwa aspek sosial dan kesadaran masyarakat masih jadi ruang perbaikan bagi Indonesia.

Tantangan Literasi Halal Indonesia

Kemenperin turut mengakui peningkatan literasi masyarakat sebagai salah satu tantangan strategis yang belum sepenuhnya terjawab. Tantangan ini berjalan beriringan dengan kebutuhan pemenuhan bahan baku halal dan percepatan sertifikasi bagi pelaku usaha kecil.

Sebagai jawaban atas tantangan itu, pengembangan SDM halal yang kompeten dan berintegritas masuk sebagai satu dari lima langkah strategis pemerintah. Langkah ini disebut berjalan beriringan dengan penguatan ekosistem halal dari hulu ke hilir.

Kebutuhan SDM halal ini bukan isu baru di ekosistem industri halal nasional. Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal Kementerian Agama telah menjalin kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi untuk memperkuat kompetensi sumber daya manusia di bidang jaminan produk halal, mencakup pelatihan, riset, dan sertifikasi auditor.

Kolaborasi semacam ini dinilai penting mengingat kebutuhan auditor dan tenaga ahli halal terus meningkat seiring perluasan kewajiban sertifikasi ke berbagai sektor industri. Tanpa jumlah tenaga terlatih yang memadai, target Indonesia menjadi pusat industri halal dunia berisiko terhambat di sisi implementasi.

Selain kerja sama lembaga pendidikan, Halal Indo 2026 turut menyediakan ruang edukasi langsung bagi pelaku usaha. Kemenperin menghadirkan pelayanan publik, workshop industri halal, dan business matching untuk mempertemukan pelaku industri dengan calon mitra.

Layanan ini turut mencakup konsultasi pemutakhiran Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia dan pelaporan data industri triwulan III 2026. Kehadiran layanan ini diharapkan meningkatkan kepatuhan sekaligus kapasitas pelaku usaha dalam jangka panjang.

Kesiapan sumber daya manusia pada akhirnya menjadi penentu keberhasilan seluruh target industri halal nasional. Tanpa pengembangan SDM halal yang berkelanjutan, ambisi Indonesia sebagai produsen utama dunia berisiko berhenti sebatas wacana kebijakan.

Community Podcast

Latest articles

Related articles