Indonesian Journal, Cilacap — Nelayan pesisir Cilacap, Jawa Tengah, memanen ubur-ubur hingga dua ton sekali melaut sejak Agustus hingga pertengahan Oktober 2026. Panen ini menjadi berkah kemarau panjang yang dikaitkan dengan El Nino. Hasilnya datang saat tangkapan ikan dari laut sulit dipastikan.
Belasan perahu berukuran 2 x 9 meter bersandar di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tegalkatilayu, Cilacap Selatan, Sabtu (10/10/2026). Perahu itu dilengkapi wadah kotak kayu untuk menampung ubur-ubur. Rahmat (32), nelayan setempat, mengatakan, “Hasil tangkapan masih cukup banyak.”
Rahmat melaut sekitar pukul 04.00 WIB menggunakan perahu kecil, sekitar 1–2 kilometer dari garis pantai. Dalam sekitar tiga jam, nelayan bisa memperoleh hingga dua ton ubur-ubur. Hasil tangkapan ditimbang di tempat penerimaan sebelum masuk rantai perdagangan dan pengolahan.
Wakil Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Cilacap, Parjo, membenarkan nelayan setempat menikmati musim panen ini. Perahu kecil umumnya memperoleh sekitar satu ton sekali melaut, sedangkan perahu lebih besar bisa mencapai 2–3 ton. Kelimpahan ubur-ubur di perairan Cilacap umumnya terjadi pada musim kemarau.
Ketergantungan Pada Cuaca
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Cilacap, Indarto, menduga curah hujan rendah dan kemarau lebih panjang mendukung kemunculan ubur-ubur. Ia menyebut fenomena itu tidak dapat dipastikan dan hanya berdasarkan pergantian musim.
“Berdasarkan pengamatan selama ini, kemunculan ubur-ubur dapat berkurang ketika hujan turun,” terang Indarto sebagaimana dikutip oleh Mongabay Indonesia.
Supri, pengepul ubur-ubur di sekitar Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap, mengatakan musim panen berlangsung sejak Agustus. Dirinya juga menyatakan kebelangsungan masa panen ini turut dipengaruhi oleh intensitas hujan.
“Sejauh ini, nelayan tak bisa memastikan berapa lama musim panen akan bertahan,” ujar Supri.
Meski lokasi penangkapan relatif dekat pantai, Parjo mengingatkan nelayan agar tetap memperhatikan keselamatan.
“Nelayan diharapkan selalu memantau perkembangan cuaca serta menjalankan aktivitas penangkapan secara bijak dan aman,” katanya lagi.
Kemunculan ubur-ubur merupakan fenomena musiman yang tidak terjadi setiap tahun. Dalam lima tahun terakhir, ada dua tahun tanpa ubur-ubur yang bisa ditangkap nelayan.
“Tahun ini kemungkinan menjadi rekor, baik dari jumlah ubur-ubur yang ditangkap maupun lamanya kemunculan,” jelas Indarto.
Dampak Pada Perekonomian Nelayan
Harga ubur-ubur di tingkat nelayan sekitar Rp800 per kilogram. Dengan tangkapan dua ton, pendapatan kotor mencapai sekitar Rp1,6 juta sekali melaut. Nono (44), nelayan Tegalkatilayu, menyebut, Hasil ini belum dikurangi biaya operasional, termasuk bahan bakar dan kebutuhan melaut.
Sekitar 10 lapak penerimaan di sekitar Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap menampung tangkapan 500 nelayan. Setiap lapak melayani 50 perahu dengan target pengolahan harian 50–80 ton. Potensi ini, menurut Supri, hal ini memberikan pemasukan tambahan nelayan.
Ubur-ubur Cilacap berpeluang menembus pasar ekspor, terutama Tiongkok untuk produk salted jellyfish. Produk ini berupa ubur-ubur yang diolah dengan garam untuk konsumsi. Indarto mengatakan Dinas Perikanan belum mengetahui harga jual setelah ubur-ubur masuk rantai pengolahan dan ekspor.
Harga sekitar Rp800 per kilogram merupakan harga ubur-ubur segar pada pembelian awal, bukan harga produk olahan. Bagi nelayan Tegalkatilayu, musim ini menjadi kesempatan mengumpulkan penghasilan sebelum kondisi perairan berubah. Perahu-perahu kecil berangkat saat langit masih gelap, mengikuti irama alam.

