HomeFashionBosan Gaya Formal? Yani Halim Dobrak Pakem Baju Hari Raya dengan Paduan...

Bosan Gaya Formal? Yani Halim Dobrak Pakem Baju Hari Raya dengan Paduan Batik Tulis dan Denim yang Edgy

Sambut Tren Lebaran 2026: Kolaborasi Noesa Raya dan IFC Jakarta Bawa Wastra Nusantara Keluar dari Zona Nyaman.

IndonesianJournal.id, Jakarta – Lanskap mode tanah air kembali berdenyut melalui gelaran Noesa Raya: Celebrate Raya with D21 Collection yang dihelat di Lotte Shopping Avenue, Sabtu (14/3). Berkolaborasi dengan Indonesian Fashion Chamber (IFC) Jakarta, panggung kali ini menjadi ruang pertemuan antara tradisi wastra dengan siluet modern yang dinamis.

Sebanyak 12 desainer kenamaan, mulai dari Lenny Agustin, Yanti Adeni, hingga Raegitazoro, memamerkan visi mereka dalam menerjemahkan kekayaan tekstil nusantara.

Namun, yang menarik perhatian musim ini adalah bagaimana para kreator tersebut mencoba mendobrak pakem busana hari raya yang biasanya identik dengan kesan kaku atau terlalu formal.

Di antara deretan koleksi yang tampil, desainer Yani Halim membawa napas segar melalui eksplorasi material yang kontras. Mengusung tema Ramadan dan Idul fitri, Yani tidak memilih jalur aman. Ia justru memadukan batik tulis yang sarat nilai historis dengan material denim yang kasual dan berjiwa muda.

“Ciri khas desain saya memang selalu mencampur (mix) dengan denim untuk mengejar kesan edgy dan unik,” ungkap Yani saat ditemui di sela acara.

Keputusannya menggunakan denim bukanlah tanpa alasan. Baginya, pasar anak muda memiliki selera yang sulit ditebak namun sangat loyal terhadap material jeans. Dengan mengawinkan denim dan batik, Yani berhasil menciptakan jembatan agar generasi muda tetap merasa relevan saat mengenakan wastra di hari raya.

Show kali ini juga menjadi panggung bagi kolektif D2-I, sebuah konsep toko bersama yang menaungi para desainer lokal. Sebanyak 22 tampilan (looks) dihadirkan, di mana setiap desainer menginterpretasikan kekayaan motif nusantara ke dalam dua set koleksi yang berbeda.

Atmosfer acara pun terasa semakin kental dengan sentuhan budaya berkat dukungan dari Angklung Perempuan Indonesia, yang memberikan latar suara harmonis bagi langkah para model di runway.

Melalui Noesa Raya, terlihat jelas bahwa tren busana lebaran 2026 tidak lagi terjebak dalam siluet konvensional. Ada keberanian untuk bermain tekstur, menabrakkan material heavy-duty seperti denim dengan kehalusan batik, serta keinginan kuat untuk membawa wastra keluar dari zona nyaman menuju panggung mode yang lebih inklusif dan modern. (artikel & Photo: Aulya Nursafitri)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here