Dua Ikan Punah, Keanekaragaman Danau Sentani di Ambang Krisis

Indonesian Journal, Jayapura — Keanekaragaman Danau Sentani di Papua makin terancam seiring langkanya ikan endemik dan ikan asli di kawasan tersebut. Ikan introduksi red devil kini mendominasi hasil tangkapan warga di sekitar danau. Kondisi ini berbanding terbalik dengan masa lalu, ketika ikan asli melimpah di Danau Sentani.

Riset Universitas Cenderawasih pada 2019 mencatat 19 jenis ikan hidup di Danau Sentani. Rinciannya, dua ikan endemik, enam ikan asli, satu ikan anadromus, dan 10 ikan introduksi. Delapan dari sembilan jenis ikan anadromus di danau ini sudah tidak ditemukan lagi, kecuali Anguilla sp.

Dua spesies ikan sudah dinyatakan punah dari Danau Sentani. Ruben Sineri, Kepala Pelaksana Tugas Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Jayapura, menyebut ikan hiu gergaji dan gete-gete sebagai dua jenis yang sudah punah. Bagi masyarakat Sentani, ikan endemik juga melambangkan identitas budaya lewat simbol adat dan motif ukiran tradisional.

Penyebab dari krisis ini diduga akibat pelepasan ikan red devil (Amphilopus labiotus) ke kawasan danau pada kisaran tahun 1980-an. Penelitian Balai Karantina Ikan Jayapura pada 2016 mencatat kepadatan red devil mencapai rata-rata 70% dari hasil tangkapan. Ikan ini dikenal predator yang memakan telur dan anakan ikan asli.

Yansen Yoku, warga Kampung Ifar Besar, menilai ikan introduksi ini merusak populasi ikan asli danau. 

“Ikan louhan gastor ini pemusnah ikan asli, dia makan segala macam, dia makan telur ikan asli juga, dan lohan juga berkembang cepat sekali,” katanya, seperti dikutip Mongabay Indonesia.

Penyebab Lain Krisis Keanekaragaman Danau Sentani

Selain ikan invasif, kerusakan habitat turut menekan ekosistem Danau Sentani. Suriani Surbakti, peneliti Universitas Cenderawasih, menyebut berkurangnya vegetasi, dan pendangkalan danau sebagai faktor penekan. Pertambangan, pencemaran, serta limbah domestik juga ikut memberi tekanan pada ekosistem danau.

“Ketika vegetasi dan struktur habitat berkurang, tempat berlindung, mencari makanan, dan berkembang biak bagi ikan juga ikut berkurang,” ujar Suriani, seperti dikutip Mongabay Indonesia. 

Ia juga menambahkan bahwa hilangnya habitat ini berdampak langsung pada kemampuan ikan asli bertahan hidup dan berkembang biak.

Sebagian besar ikan endemik dan asli Danau Sentani belum memiliki status perlindungan hukum. Dua jenis ikan endemik, yaitu himen dan pelangi merah, belum masuk daftar dilindungi. Enam jenis ikan asli lainnya juga belum mendapat status perlindungan serupa.

Sebagai langkah antisipasi, Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Jayapura mulai melakukan edukasi untuk pelestarian ikan endemik. Pemerintah daerah juga menggelar lomba memancing ikan red devil dan gastor untuk menekan populasi predator ini. Hasil tangkapan dari lomba tersebut dimanfaatkan sebagai pakan ikan budi daya.

Suriani menilai pelestarian ikan endemik membutuhkan kajian ilmiah berkelanjutan. Dia mendorong kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, perguruan tinggi, dan lembaga penelitian. Upaya bersama ini dinilai penting untuk menjaga keanekaragaman Danau Sentani bagi generasi mendatang.

Community Podcast

Latest articles

Related articles