Indonesian Journal, Jakarta — Di tengah berkembangnya industri e-sport Indonesia, stigma gamer Mobile Legend sebagai aktivitas “tidak punya masa depan” kerap melekat di masyarakat. Film Nobody Loves Kay bongkar anggapan tersebut lewat kisah perjuangan seorang remaja mengubah hobi bermain gim sebagai jalan hidup profesional.
Film yang terinspirasi dari kisah pro player ONIC Kairi itu menggelar gala premiere di Jakarta pada Kamis (28/5/2026). Kisahnya sangat dekat dengan kehidupan remaja dari kalangan keluarga kelas menengah ke bawah. Dimana terdapat isu kesehatan mental, perjuangan, ambisi, hingga pengkhianatan dan patah hati.
Tak hanya menghadirkan atmosfer emosional, film ini juga membuka ruang diskusi baru antara anak dan orangtua yang setara. Mimpi mengejar cita-cita bagi generasi muda seringkali dianggap tidak konvensional oleh orangtua mereka.
Dalam film tersebut, perjuangan Kay digambarkan bukan sekadar tentang dunia e-sport yang kompetitif. Di balik hingar bingar dan sumpah serapah terdapat usaha mempertahankan mimpi di tengah keterbatasan ekonomi dan keraguan keluarga.
Pemeran Inggrid, Mian Tiara, menilai keresahan orangtua terhadap dunia gim sebenarnya lahir dari rasa takut akan masa depan anak mereka.
“Di film ini anak-anak punya mimpi sendiri dengan bekal sekedar hobi yang bikin ibu merasa was-was dan khawatir bagaimana mereka menjalani hidupnya,” ujar Mian Tiara.
Ia menambahkan, banyak orangtua pada akhirnya hanya ingin memastikan anak-anak mereka memiliki kehidupan yang layak dan masa depan yang jelas.
“Kadang orangtua bukan tidak mendukung mimpi anaknya, tapi mereka takut anaknya jatuh di jalan yang belum pernah mereka pahami sebelumnya,” lanjutnya.
Narasi tersebut menjadi salah satu kekuatan utama Nobody Loves Kay. Film ini tidak menempatkan orangtua sebagai pihak yang sepenuhnya salah. Justru kisahnya memperlihatkan benturan dua generasi yang sama-sama berangkat dari rasa sayang dan kekhawatiran.
Kisah Seorang Anak Pekerja Imigran Tanpa Privilege
Sutradara Bernardus Raka juga menegaskan bahwa kisah Kay dekat dengan realitas banyak anak muda Indonesia yang tumbuh tanpa privilege.
“Saya mengangkat kisah ini karena perjuangan Kay di sini dekat sekali dengan kita. Seorang anak pekerja migran, tapi bisa mewujudkan mimpinya yang sering sekali disepelekan, diremehkan banyak orang, termasuk orangtuanya sendiri. Kay adalah representasi dari kita semua yang berani bermimpi,” kata Bernardus Raka.
Sementara itu, Kairi mengaku terharu melihat perjalanan hidupnya dapat diterjemahkan ke layar lebar dan diterima secara emosional oleh penonton.
“Nggak nyangka orang-orang bisa merasa sedekat itu dengan kisah perjuangan aku,” ujar Kairi.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa industri e-sport Indonesia kini tidak lagi sekadar hiburan digital, melainkan telah menjadi bagian dari perubahan sosial dan budaya populer generasi muda. Profesi gamer profesional perlahan mulai dipandang sebagai jalur karier alternatif yang membutuhkan disiplin, kerja keras, dan mental kompetitif.
Melalui Nobody Loves Kay, publik diajak melihat bahwa stigma gamer Mobile Legend tidak selalu relevan dengan realitas hari ini. Terutama, ketika ruang dialog antara anak dan orangtua mulai dibuka lebih luas.
