Indonesian Journal, Jakarta – Setelah sukses menyelenggarakan Fête de la Musique 2026 atau perayaan Hari Musik Sedunia 2026 di beberapa kota di Indonesia melalui kerja sama dengan berbagai pelaku budaya lokal, Kedutaan Besar Prancis di Indonesia – Institut français d’Indonésie (IFI) melanjutkan komitmennya untuk meningkatkan kerja sama budaya Prancis-Indonesia melalui edisi kelima tur jazz Prancis di Indonesia.
Diluncurkan pada tahun 2022, inisiatif ini secara bertahap telah menjadi salah satu ajang utama pertukaran musik antara Prancis dan Indonesia. Setiap tahun, inisiatif ini memberikan kesempatan kepada para seniman muda Prancis untuk berinteraksi dengan penonton, festival, dan para profesional di Indonesia, sekaligus mendorong terjalinnya kolaborasi jangka panjang antara kedua komunitas jazz tersebut.
Tahun ini, tur tersebut menampilkan duo asal Prancis, Watchdog, yang mengunjungi beberapa kota di Indonesia mulai 22 Juli hingga 8 Agustus 2026. Konser, lokakarya, pertemuan profesional, dan pertunjukan musik akan mewarnai perjalanan yang melintasi enam kota, yang mencerminkan tekad bersama Prancis dan Indonesia untuk menjadikan budaya sebagai pendorong dialog antara kedua negara.
Diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Prancis – IFI, edisi kelima ini dapat terlaksana berkat kerja sama dengan sejumlah pemangku kepentingan utama di kancah budaya Indonesia dan Prancis, di antaranya Forum Jazz Indonesia, AJC – Association Jazzé Croisé, Jazz Gunung Festival, ArtJog, Jazz Summit Indonesia, The Papandayan Jazz Festival, dan Ubud Village Jazz Festival. Melalui kerja sama dengan para mitra tersebut, pertukaran dan kolaborasi antar seniman dapat terlaksana dalam program ini.
Tur dimulai di Bromo, di mana Watchdog akan tampil di Jazz Camp pada tanggal 22 dan 23 Juli, sebelum tampil di Jazz Gunung Festival pada tanggal 25 Juli. Duo ini kemudian akan melanjutkan perjalanannya ke Yogyakarta, dengan konser dalam rangkaian ArtJog pada tanggal 28 Juli, lalu ke Jakarta, di mana mereka akan tampil dalam Jazz Summit Indonesia yang diselenggarakan di IFI Jakarta pada tanggal 31 Juli. Para musisi ini kemudian akan berada di Bandung untuk acara Road to The Papandayan Jazz Festival pada 1 Agustus, sebelum menggelar konser di Surabaya (JW Marriot Surabaya) pada 4 Agustus. Tur ini akan ditutup di Ubud Village Jazz Festival yang bergengsi, di Bali, pada 8 Agustus.
Salah satu tujuan dari inisiatif ini adalah memberikan ruang bagi para seniman Prancis dan Indonesia untuk saling bertemu, di luar panggung. Sepanjang tur, Watchdog akan berinteraksi dengan musisi muda, mahasiswa, pengajar, dan para profesional di bidang ini melalui Jazz Camp di Bromo, masterclass di Jakarta, lokakarya, serta pertemuan dengan komunitas jazz di Yogyakarta. Momen berbagi ini merupakan salah satu ciri khas program yang menjadikan setiap edisi sebagai ruang dialog, pembelajaran bersama, dan kreasi bersama yang sesungguhnya.
Dibentuk pada tahun 2016, Watchdog merupakan kolaborasi antara pianis dan komposer Anne Quillier serta pemain klarinet Pierre Horckmans. Sebagai pemenang program Jazz Migration, duo ini mengembangkan dunia musik yang unik di mana improvisasi, musik kontemporer, musik elektronik, dan eksplorasi suara berpadu dengan bebas. Melalui pendekatan inovatif ini, Watchdog mewakili dinamisme generasi baru musisi Prancis yang memperbarui bentuk-bentuk jazz kontemporer.
Prancis menjadi rumah bagi salah satu scene jazz paling dinamis di Eropa. Sebagai pewaris para tokoh ikonik seperti Django Reinhardt, Stéphane Grappelli, Michel Petrucciani, Didier Lockwood, atau Michel Legrand, Prancis terus mendukung generasi baru seniman yang mengeksplorasi bahasa-bahasa musik baru. Melalui Watchdog, penonton Indonesia akan menemukan pertunjukan kontemporer dan inovatif dari komunitas jazz Prancis ini.
Melalui inisiatif ini, Kedutaan Besar Prancis di Indonesia – IFI menegaskan kembali komitmennya untuk menjadikan musik sebagai bahasa universal yang mendukung dialog antara Prancis dan Indonesia. Dengan memfasilitasi pertemuan antara seniman, praktisi, mahasiswa, dan penonton dari kedua negara, edisi kelima ini menunjukkan vitalitas kemitraan budaya yang didasarkan pada pertukaran, kepercayaan, dan kreasi bersama.
