Indonesian Journal, Jakarta — Kota-kota besar Indonesia seperti halnya Jakarta kerumunan bergerak dengan urusannya masing-masing. Weekdays to weekend, 8 AM to 10 PM. Aktivitas tanpa henti, mulai dari berjalan, berlari, duduk istirahat di tepi jalan, atau sekedar berbincang menawarkan gagasan. Di antara mereka, perempuan berhijab hadir dengan caranya sendiri.
Mode hijab mereka beragam gaya. Sebagaimana tren modest fashion, kesederhanaan hingga padu-padan berproses. Ada yang dikenakan sebagai teman olahraga pagi, atau look pantas dari pagi, seolah ruang publik tidak mengharuskannya meninggalkannya tanpa bergaya.
Semua rutinitas itu tampak praktis oleh mata, tetapi di baliknya menyimpan cerita yang berbeda-beda. Keputusan mengenakan kain kerudung mungkin lahir dari keyakinan pribadi. Bagi yang lain, ia bisa berkelindan dengan keluarga, lingkungan, kebutuhan aktivitas, hingga pengalaman bertahun-tahun mencari cara berpakaian yang tepat dan pantas.
Artinya, hijab tidak selalu dimulai dari pilihan pribadi. Salah duanya adalah LY yang kami temui di Istana Cipanas, Jawa Barat, maupun NAD selaku anggota komunitas hijabers.
Pengalaman dalam Berhijab
Pengalaman mengenakan hijab tidak selalu bermula dari ruang yang sama. Bagi sebagian perempuan, cara mengenakan kerudung dapat dipengaruhi aturan institusi. Sedangkan yang lainnya mempertimbangkan aspek kenyamanan, aktivitas, bentuk tubuh, hingga material yang terasa sesuai.

Di lingkungan kerja dengan ketentuan busana tertentu, misalnya, hijab menjadi bagian dari penyesuaian terhadap aturan yang sudah ditetapkan. Seragam, warna, dan model dapat mengikuti kebutuhan institusi, sehingga preferensi personal tidak selalu menjadi pertimbangan utama.
Pengalaman LY, yang berpengalaman 13 tahun di lingkungan Istana Cipanas, memperlihatkan kondisi tersebut. Ketika berada di luar lingkungan kerja, pertimbangannya kembali berubah. Ia memilih kerudung berdasarkan kegiatan, acara, dan busana yang dikenakan.
Namun, ketika aturan institusi tidak menjadi pertimbangan utama, kebutuhan terhadap hijab pun tetap beragam. Faktor seperti kualitas material, model, cutting, dan kenyamanan dapat menentukan pengalaman seseorang ketika mengenakan kerudung.
Hal tersebut terlihat dari pengalaman NAD, co-founder Hijabers Mom Community. Ia mengatakan kualitas menjadi salah satu pertimbangan utama dalam memilih hijab dan cenderung bertahan pada merek yang material serta modelnya sudah ia percaya.
Kebutuhan yang berbeda juga muncul dari persoalan ukuran. Bagi konsumen dengan tubuh plus size, ketersediaan ukuran dapat menjadi bagian penting dari pengalaman mengenakan hijab.
“Variatif perihal sizing-nya, khususnya untuk plus size people,” ujar pengusaha itu.
Dengan demikian, pengalaman berhijab tidak hanya berkaitan dengan model atau warna yang terlihat dari luar. Di balik sebuah kerudung terdapat kebutuhan yang berbeda, aturan yang harus diikuti, aktivitas yang harus dijalani, tubuh yang perlu diakomodasi, hingga kenyamanan yang dicari.
Pada akhirnya, hijab hadir bukan dalam satu situasi yang seragam. Ia mengikuti perempuan ke berbagai ruang kehidupan, dengan kebutuhan yang dapat berubah dari satu momen ke momen lainnya.
Dari Pengalaman ke Modest Fashion
Jika pengalaman berhijab dibentuk oleh ruang, aktivitas, tubuh, dan citra diri, maka kebutuhan terhadap kerudung masuk pada ranah tampilan. Kerudung perlu mengikuti kehidupan yang dijalani penggunanya, dari aktivitas sehari-hari hingga situasi yang menuntut penampilan tertentu.
Keragaman bentuk dan estetika menjadi salah satu konteks berkembangnya modest fashion. Industri kini berhadapan dengan ekspektasi atas pola hijab yang trendi tanpa kehilangan fungsi syariat-nya. Di saat yang bersamaan, tuntutan terhadap material serta kemampuan sebuah hijab digunakan dalam berbagai aktivitas tetap hadir.
Pada 10 Agustus 2026, UNIQLO turut memasuki ruang tersebut melalui UNIQLO Hijab dengan tiga pilihan, Hijab AIRism Proteksi Sinar UV, Hijab Satin, dan Hijab Georgette. Ketiganya hadir dengan karakter dan pilihan warna berbeda, masing-masing dibanderol Rp199.000.

Koleksi tersebut diklaim sebagai respons terhadap kebutuhan pelanggan akan hijab yang nyaman dan fungsional untuk aktivitas sehari-hari. Dengan demikian, kehadiran UNIQLO Hijab dapat dibaca dalam konteks yang lebih luas, yaitu bagaimana industri mencoba menerjemahkan beragam pengalaman perempuan berhijab ke dalam sebuah produk.
Di sinilah konsep LifeWear menemukan konteksnya. UNIQLO mendefinisikan LifeWear sebagai pakaian yang dibuat untuk semua orang dan dirancang untuk menjadikan kehidupan lebih baik, dengan karakter sederhana, berkualitas, fungsional, serta terus berkembang mengikuti kehidupan.
Namun, gagasan tersebut pada akhirnya tidak hanya diuji oleh apa yang ditawarkan sebuah koleksi. Ia juga diuji oleh kehidupan nyata yang dijalani penggunanya, apakah modelnya cukup nyaman untuk menemani aktivitas, sesuai dengan kebutuhan tubuh, atau juga dapat mengikuti perubahan situasi dari satu ruang ke ruang lainnya.
Sebab, memahami hijab sebagai bagian dari kehidupan berarti melihatnya lebih jauh daripada sekadar apa yang tampak ketika dikenakan. Di balik selembar kerudung, ada aktivitas yang harus dijalani, ruang yang harus dimasuki, lalu, ada momen-momen yang membuat pengalaman setiap perempuan berhijab menjadi berbeda.
Ketika Hijab Melampaui Pemilik Pertama
Ini adalah bagian paling menarik dari hubungan seseorang dengan hijab. Hubungan itu tidak selalu berakhir ketika kerudung itu berhenti dikenakan. Dalam situasi tertentu, sebuah hijab dapat berpindah tangan dan menemukan kegunaan lain. Sementara pada skala yang lebih luas, pola serupa dapat berkembang menjadi praktik berbagi yang melibatkan lebih banyak orang.
LY yang kami temui memilih memberikan hijab yang masih layak kepada anggota keluarganya ketika sudah tidak lagi menggunakannya.
“Sayang aja, karena udah nggak kepakai lagi,” ujarnya.
Sementara itu, NAD menolak hijab lungsuran dan memilih membeli baru ketika kerudungnya aus atau tak lagi memenuhi kebutuhannya.
Dari kedua narasumber ini saja ada fenomena dimana kehidupan sebuah hijab setelah pemakaian pertama tak memiliki satu pola. Namun menariknya, ragam polanya tetap berdaya guna.
Ketika praktik berbagi dilakukan secara kolektif, jangkauannya dapat menjadi lebih luas. Contoh lain seperti The Power of Small Acts, UNIQLO menempatkan tindakan-tindakan sederhana sebagai bagian dari perubahan bersama. Dalam RE.UNIQLO Community Day FY2026, misalnya, perusahaan melaporkan distribusi 12.000 pakaian layak pakai kepada 1.000 keluarga di Bekasi Barat serta pengolahan 600 kilogram pakaian yang tidak lagi layak digunakan bersama PABLE.

Pola serupa terlihat dalam program “Satu untuk 1.000” pada Agustus 2026. Berdasarkan laporan perusahaan, program tersebut menghasilkan donasi Rp1 miliar dan 1.400 pakaian untuk 1.000 guru honorer, termasuk UNIQLO Hijab.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa sebuah hijab dapat memiliki kehidupan yang lebih panjang daripada masa penggunaannya oleh satu orang. Dari lemari seseorang, ia dapat berpindah ke keluarga, komunitas, atau penerima manfaat lain ketika ada kebutuhan yang mempertemukan keduanya.
Pada titik itu, nilai sebuah hijab tidak lagi hanya ditentukan oleh siapa yang pertama kali memilih dan mengenakannya, tetapi juga oleh bagaimana ia terus menemukan tempat dalam kehidupan orang lain.
LifeWear dalam satu momen kehidupan
Pada akhirnya, pengalaman LY dan NAD menunjukkan hijab memiliki banyak pintu masuk ke dalam kehidupan perempuan.
Ia dapat mengikuti aturan ketika seseorang bekerja, menyesuaikan diri dengan aktivitas ketika berada di luar kantor, mendukung kenyamanan dan kepercayaan diri, atau berpindah tangan ketika pemilik pertamanya sudah tidak lagi membutuhkannya.
Karena itu, filosofi ini tidak harus dipahami hanya dari apa yang terlihat ketika seseorang mengenakan sebuah produk.
LifeWear juga dapat dibaca dari bagaimana sebuah item hadir dalam kehidupan pemakainya: ketika dibutuhkan, ketika menemani aktivitas, ketika menjadi bagian dari identitas, hingga ketika manfaatnya diteruskan kepada orang lain.
Bagi perempuan berhijab, satu kerudung bahkan dapat menemani lebih dari satu momen. Ia dapat hadir dalam pekerjaan, perjalanan, pertemuan, ibadah, kegiatan bersama keluarga, atau aktivitas sehari-hari lainnya.
Pada akhirnya, yang membuat sebuah hijab berarti bukan hanya apa yang melekat pada kainnya, tetapi momen kehidupan apa yang berhasil ditemaninya.

