Penelusuran Wardiman Djojonegoro, Surat Kartini Tidak Semua Dipublikasikan ke Publik

IndonesianJournal.id, Jakarta – Nama R.A. Kartini selama ini hadir sebagai simbol cahaya terang dalam sejarah perempuan Indonesia. Gagasannya yang cemerlang dikenal luas di dunia internasional melalui kumpulan suratnya yang diterbitkan dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang.

Namun, ada satu fakta yang terungkap dalam penelusuran buku Kartini : Kumpulan Surat-Surat 1899-1904, karya Wardiman Djojonegoro. Surat Kartini tidak semua dipublikasikan. Apa yang selama ini dibaca publik sesungguhnya hanyalah bagian dari keseluruhan yang pernah ia tulis.

Wardiman Djojonegoro memberi petunjuk penting mengenai ratusan surat Kartini dalam rentang 1895 hingga 1904. Dari penelusuran arsip yang dilakukannya, terlihat bahwa jumlah surat tersebut jauh lebih banyak dibandingkan yang kemudian terpublikasi. 

Ketika pertama kali diterbitkan oleh J.H. Abendanon pada 1911, hanya sebagian yang dipilih untuk dimuat. Dalam perkembangannya, jumlah surat yang berhasil dihimpun memang bertambah, tetapi tetap belum mencerminkan keseluruhan korespondensi yang pernah ada.

Di titik ini, terlihat bahwa yang tersaji kepada publik adalah hasil himpunan, bukan keseluruhan suara.

Sebagian surat Kartini hadir dalam bentuk yang tidak lagi utuh. Ada yang dipotong, ada pula yang tidak pernah dimasukkan ke dalam publikasi. Di luar itu, kemungkinan hilangnya sejumlah surat tidak dapat diabaikan.

Kenapa Surat Kartini Tidak Semua Dipublikasikan? 

Pada masanya, surat merupakan ruang personal yang tidak selalu disimpan sebagai arsip. Apa yang ditulis bisa saja berhenti pada relasi antara pengirim dan penerima. Seiring waktu, sebagian jejak itu menghilang.

Mayoritas surat Kartini ditujukan kepada sahabat pena dari kalangan Belanda. Relasi ini membentuk jalur bagaimana gagasan Kartini bergerak dan kemudian dipahami.

Ketika surat-surat tersebut dihimpun dan diterbitkan, proses seleksi dan penyuntingan menjadi bagian yang tak terpisahkan. Apa yang kini dikenal publik bukan hanya tulisan Kartini, tetapi juga hasil dari proses kurasi yang berlangsung di sekitarnya.

Dalam surat-suratnya, Kartini tidak hanya berbicara tentang perempuan. Ia menulis tentang pendidikan, keluarga, hingga dinamika sosial budaya masyarakat Jawa pada masanya.

Surat-surat itu menjadi jendela untuk melihat dunia yang lebih luas. Namun, karena tidak semuanya sampai ke publik, jendela itu tidak pernah terbuka sepenuhnya.

Temuan dalam buku Wardiman Djojonegoro mengingatkan bahwa memahami Kartini berarti juga membaca apa yang tidak selalu hadir. Ada bagian yang tercatat, ada pula yang hilang bersama waktu.

Fakta bahwa surat Kartini tidak semua dipublikasikan menunjukkan bahwa sejarah tidak selalu datang dalam bentuk utuh. Ia sering hadir sebagai rangkaian fragmen yang menunggu untuk disusun kembali.

Di antara yang tersisa dan yang menghilang, pemahaman tentang Kartini terus bergerak, mengikuti cara kita membaca jejaknya hari ini.

Community Podcast

Latest articles

Related articles