BLDF Tegasnya Pentingnya Kolaborasi Berbasis Data Untuk Pelestarian Macan Tutul Jawa

Indonesian Journal, Jakarta – Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) menegaskan pentingnya aksi kolaboratif dari berbagai pihak dan menggunakan data dalam upaya pelestarian macan tutul jawa sebagai predator puncak.

Mengutip dari data Kementerian Kehutanan, tercatat macan tutul yang tersisa di alam bebas tersisa 350 ekor dan tersebar di 29 kantong habitat yang saling terisolasi. Ini menggambarkan bahwa spesies endimik Pulau Jawa ini semakin mendekati kepunahan.

Program Director BLDF Jemmy Chayadi menegaskan bahwa pelestarian keanekaragaman hayati merupakan bagian dari komitmen BLDF dalam menjaga keseimbangan ekosistem melalui lima pilar keberlanjutan, salah satunya konservasi keanekaragaman hayati (biodiversity conservation).

“Di Djarum Foundation melalui program Bakti Lingkungan, konservasi dipandang bukan sebagai upaya parsial, melainkan upaya menjaga sistem kehidupan secara menyeluruh. Menanam pohon memang penting, tetapi pohon hanyalah satu bagian dari ekosistem. Upaya pelestarian juga perlu mencakup penjagaan kualitas tanah dan air, konektivitas lanskap hutan, kelestarian habitat alami, serta keberlangsungan satwa liar yang hidup di dalamnya. Dengan demikian, konservasi macan tutul jawa bukan sekadar melindungi satu spesies, melainkan menjaga keseimbangan keseluruhan ekosistem agar tetap lestari,” ujar Jemmy.

Sementara itu, Direktur Yayasan SINTAS Indonesia Hariyo T. Wibisono menyoroti pentingnya pendekatan berbasis data guna mendukung pengawasan serta perumusan strategi konservasi yang tepat bagi satwa endemik ini.

“Untuk memperoleh data akurat populasi macan tutul jawa, kami telah memasang 1.000 kamera pengintai di hutan-hutan di pulau Jawa. Data ini akan dianalisis secara komprehensif, sehingga kedepannya diharapkan dapat menjadi dasar penyusunan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) yang lebih komprehensif,” jelas Hariyo.

Melalui kegiatan ini, BLDF mendorong agar pelestarian macan tutul jawa tidak hanya menjadi agenda konservasi, tetapi juga gerakan bersama yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Dengan dukungan data yang semakin kuat dan kolaborasi yang berkelanjutan, upaya menjaga spesies kunci ini diharapkan dapat berkontribusi pada keberlanjutan ekosistem hutan di Pulau Jawa secara keseluruhan.

Sebagai bagian dari partisipasinya dalam ARTCYCLE: EARTHFORM, BLDF juga menghadirkan pameran foto yang berlangsung selama periode 20 April hingga 17 Mei 2026, dengan tema yang berganti setiap minggunya. Pada periode 20–26 April 2026, pameran mengangkat tema Biodiversity Conservation dengan fokus pada elang jawa. Selanjutnya, pada 27 April–3 Mei 2026, tema beralih pada konservasi macan tutul jawa. Pada 4–10 Mei 2026, pameran menampilkan lima pilar BLDF, sebelum ditutup pada 11–17 Mei 2026 dengan 18 karya foto jurnalistik terpilih.

Community Podcast

Latest articles

Related articles