Satu Dekade Budaya Ngopi Indonesia Jadi Sorotan di Pembukaan ICX Jakarta 2026

IndonesianJournal.id, JakartaIndonesia Coffee Expo (ICX) Jakarta 2026 resmi dibuka Gubernur Pramono Anung Wibowo di JICC Senayan, hari ini (4/9/2026). Acara ini menjadi puncak rangkaian ICX 2026 setelah digelar di Surabaya dan Medan. Sebanyak 115 lebih brand berpartisipasi dengan target 10.000 pengunjung selama tiga hari.

Pembukaan ditandai dengan pemotongan pita bersama sejumlah pejabat dan mitra strategis acara. Ketua Umum SCAI Daryanto Witarsa turut hadir mendampingi Pramono dalam seremoni tersebut.

Pramono menyebut Indonesia menempati posisi keempat penghasil kopi dunia dengan kontribusi 7 sampai 8 persen. 

“Pelaku di Jakarta yang berkaitan dengan kopi hampir 193.000, jadi cukup besar sekali,” ujarnya. 

Ia menambahkan keragaman jenis kopi Indonesia jadi keunggulan dibanding negara lain seperti Tanzania yang hanya punya satu jenis kopi meski memiliki Gunung Kilimanjaro.

Satu Dekade Budaya Ngopi Indonesia

Satu dekade budaya ngopi Indonesia menunjukkan pertumbuhan signifikan menurut data International Coffee Organization. Konsumsi kopi domestik tumbuh 50,02 persen dalam periode tersebut sementara jumlah kafe naik 16 persen per tahun. Survei Jakpat 2026 mencatat 58 persen responden mengonsumsi kopi setidaknya sekali setiap hari.

Pramono berharap SCAI dapat menggelar kembali World of Coffee di Jakarta sebelum 2030. Ia menyebut Mei 2029 sebagai waktu ideal dengan dukungan penuh dari Pemprov DKI Jakarta.

Pramono turut memaparkan capaian ekonomi Jakarta seperti kontribusi PDRB nasional sebesar 16,32 persen. Pertumbuhan ekonomi Jakarta tercatat 5,52 persen dengan inflasi terendah se Jawa Bali sebesar 2,5 persen. Angka tersebut merupakan indikator makro Jakarta secara umum, bukan data khusus sektor kopi.

Budaya Grab and Go Perkopian Indonesia

Pramono turut menyinggung pergeseran cara anak muda menikmati kopi masa kini. 

“Sekarang ini untuk urusan perkopian, anak muda, gen Z, milenial, menggunakan kopi itu tidak lagi semata mata di warung kopi. Mereka ada istilahnya Grab and Go, dan ini sudah menjadi tradisi baru,” lanjut orang nomor satu di DKI Jakarta tersebut.

Pramono menyebut pola itu mengingatkannya pada kebijakan pemilahan sampah Jakarta.

“Setelah saya dalami ini persis seperti pilah sampah, seperti Ingub nomor 5 tahun 2026. Dulu hanya angkut buang, sekarang orang menikmati kopi tidak lagi harus di warung kopi,” tambahnya.

Sebagai contoh nyata yang ia temukan, Gubernur Pramono memberi penjelasan aktivitas warganya.

Grab and Go itu bisa di rumah, bareng temennya, bersepeda, komunitas, dimana-mana,” ujar Pramono menjelaskan. 

Fenomena ini menegaskan bagaimana satu dekade budaya ngopi Indonesia mengubah cara masyarakat bersosialisasi.

Community Podcast

Latest articles

Related articles