Kramat Jati, Jakarta Timur, April 2020. Jalan utama yang biasanya riuh di siang itu nyaris tanpa kendaraan. Berjajarnya taksi-taksi biru metalik menjadi satu pemandangan yang masih bertahan di pinggir jalan. Penumpang tak kunjung datang, kota sedang dikunci oleh pembatasan sosial. Namun demikian, para pengemudi tetap nekat mangkal dengan sesekali memperbaiki posisi masker di wajahnya.
Saat kami datang sebagai relawan kemanusiaan yang diberi keringanan beraktivitas di Jakarta membagikan makan siang, merekalah yang lebih dulu memanggil. Kami pun menghampiri, dari satu taksi ke taksi berikutnya. Satu kalimat singkat dari para pengemudi, “terima kasih mas, ini sangat membantu.”
Sepi berkelanjutan di jalan kala itu punya angka. Sepanjang 2020, pendapatan bersih Bluebird turun sekitar 49 persen, dari Rp4,04 triliun menjadi Rp2,04 triliun. Pukulan terberat jatuh pada bisnis inti, dimana pendapatan segmen taksi pada semester pertama 2020 turun 43 persen dibanding tahun sebelumnya. Perusahaan juga menempuh kesepakatan relaksasi pembayaran pokok utang dengan para kreditur dan mencari peluang bisnis baru di luar bisnis yang sudah ada.
“Terkadang hanya dapat 3 tamu sehari. Sebab, banyak mall tutup, dan beberapa hotel juga sudah tutup,” seperti yang dikutip Republika (24/4/2020).
Mereka bertahan, tetapi pada kenyataannya, pandemi bukan satu-satunya badai yang harus dihadapi industri ini.
Badai yang Lebih Dulu Datang
Sebelum virus membuat jalanan sepi, industri taksi sudah lebih dulu menjadi bahan pemberitaan. Kala itu, gelombang aplikasi transportasi daring muncul. Berdasarkan catatan yang dikutip Kompas (20/12/2022) kehadiran taksi online membuat laba bersih 2016 Bluebird menyusut hingga 38,45 persen dibandingkan tahun 2015.
Akan tetapi, Bluebird bukan pemain baru di dunia digital. Pada 2011, grup ini memperkenalkan Taxi Mobile Reservation, layanan reservasi taksi lewat perangkat BlackBerry yang disebut pionir. Namun krisis mempercepat langkah. Sebuah studi kasus akademik tentang Bluebird menyebut percepatan transformasi digital itu sebagai efek tak terduga dari krisis, dengan implementasi pembayaran digital dan penguatan infrastruktur aplikasi dipacu lebih cepat.
Dari sana, aplikasi MyBluebird berkembang. Dalam laporan analisadaily, Bluebird menggambarkan aplikasinya telah bergeser dari sekadar kanal pemesanan taksi menjadi pintu masuk ke berbagai pilihan mobilitas, mulai dari rental hingga pengantaran, dengan fitur terbaru seperti Multi-Select, Airport Transfer, dan penyempurnaan layanan Rent.
Peran aplikasi ini disebut berkontribusi hingga lebih dari 40 persen dari total pemesanan Bluebird di semua kanal. Direktur Utama PT Blue Bird Tbk, Andre Djokosoetono, mengatakan, “perusahaan terus mengembangkan teknologi sebagai penghubung berbagai pilihan mobilitas.”
Pada 2025 Blue Bird membukukan pendapatan Rp5,7 triliun, tumbuh 13,2 persen, yang disebut sebagai kinerja tertinggi sejak disrupsi teknologi. Aplikasi MyBluebird mencatat kenaikan pengguna lebih dari 30 persen. Armada bertambah sekitar 1.800 unit hingga totalnya melampaui 26.000, termasuk kendaraan listrik.
Inklusi dari Kursi Penumpang
Jauh sebelum pandemi, Bluebird sudah memikirkan penumpang yang selama ini sering terlupakan. Pada September 2014 grup ini meluncurkan Lifecare Taxi, layanan taksi untuk penyandang disabilitas. Awalnya peluncuran dimulai dengan lima unit Nissan Serena yang kursinya dapat bergeser, dan disebut yang pertama di Indonesia.

Inklusivitas itu bukan langkah baru setelah krisis. Ia sudah ada, lalu diperbarui. Pada April 2024 layanan ini diluncurkan ulang dengan kendaraan MPV berkabin luas dan kursi penumpang yang bisa naik-turun otomatis. Armadanya juga bisa dijumpai di pangkalan Bluebird di sejumlah rumah sakit di Jakarta.
Layanan itu kini berada di bawah payung keberlanjutan perusahaan. Menurut pemberitaan peluncuran ulang 2024, Lifecare Taxi adalah bagian dari program Bluebird Peduli. Dalam kerangka keberlanjutan Bluebird, inisiatifnya dikelompokkan dalam tiga pilar: BlueSky, BlueLife, dan BlueCorps.
BlueLife berfokus pada kesejahteraan sosial, termasuk beasiswa bagi anak pengemudi dan karyawan, yang di antara penerimanya juga mencakup anak berkebutuhan khusus. BlueSky menaungi isu lingkungan, mulai dari adopsi kendaraan listrik dan bahan bakar ramah lingkungan. BlueCorps berfokus pada tata kelola dan keberlanjutan bisnis, termasuk kepatuhan pada regulasi pasar modal, sistem pelaporan pelanggaran, dan inovasi teknologi seperti aplikasi MyBluebird.
Di tingkat global, arah ini sejalan dengan tren. Pada November 2024, sejumlah perusahaan besar menandatangani ikrar dari jaringan bisnis dan disabilitas Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) untuk menjadikan inklusi disabilitas bagian integral dari upaya dan pelaporan keberlanjutan mereka. Artinya, inklusi disabilitas semakin dipandang sebagai bagian dari keberlanjutan, bukan sekadar kegiatan amal.
Namun satu kenyataan membuat cerita ini belum utuh. Inklusivitas Bluebird, sejauh ini, berhenti di sisi penumpang.
Penelusuran Singkat ke Kursi Pengemudi
Di titik inilah cerita Taksi Biru menemui pertanyaan yang sulit. Perusahaan ini melayani penumpang disabilitas lewat Lifecare Taxi, tetapi penelusuran tim redaksi belum ditemukan data atau pemberitaan yang menyebut Bluebird memiliki pengemudi penyandang disabilitas. Hingga kini, jumlah dan keberadaan pengemudi disabilitas operator taksi ini belum dapat dipastikan.
Pertanyaan ini bukan semata soal kebaikan hati, melainkan juga hukum. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas mewajibkan perusahaan swasta mempekerjakan paling sedikit satu persen penyandang disabilitas dari jumlah pekerjanya. Ketentuan ini tercantum dalam Pasal 53 ayat (2), sementara pemerintah, BUMN, dan BUMD diwajibkan mempekerjakan paling sedikit dua persen. Kuota itu dihitung dari seluruh pekerja, bukan dari satu jenis pekerjaan. Jadi Bluebird bisa saja memenuhinya lewat posisi lain.
Persoalan sebenarnya lebih luas dari sekedar dunia pertaksian. Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat, misalnya, menegaskan bahwa kuota kerja ini harus dipatuhi dan direalisasikan secara konsisten. Hambatannya justru pada penindakan dan pemberian insentif sebagaimana yang tertera di Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 2020 tentang Unit Layanan Disabilitas Bidang Ketenagakerjaan.
Lalu mengapa kursi pengemudi tampak sulit dijangkau? Jalur hukum bagi penyandang disabilitas untuk mengemudi sebenarnya ada. Peraturan Kepolisian Nomor 5 Tahun 2021 menerbitkan SIM D untuk kendaraan khusus setara sepeda motor dan SIM DI untuk kendaraan khusus setara mobil. Namun aturan yang sama membedakan SIM untuk kendaraan umum. Mobil penumpang umum seperti taksi memerlukan SIM A Umum, dan untuk mendapatkannya pemohon harus lebih dulu memegang SIM A selama 12 bulan. SIM DI tidak disebut dalam jalur itu.
Artinya, pertanyaannya bukan semata soal izin, tetapi soal kriteria kesehatan. Peraturan mewajibkan pemeriksaan penglihatan, pendengaran, dan kondisi fisik anggota gerak bagi setiap pemohon SIM, tanpa menyebut batas tertentu atau mengecualikan kelompok disabilitas. Bagaimana pemeriksaan itu diterapkan pada penyandang disabilitas, dan ragam disabilitas mana yang realistis, belum terjawab di teks aturan.
Di sinilah gap itu terlihat. Layanan untuk penumpang berjalan, pilar sosial perusahaan menyentuh pendidikan dan kesejahteraan keluarga pengemudi, tetapi pintu masuk ke kursi pengemudi bagi penyandang disabilitas belum tampak dibicarakan secara terbuka.
Dari Jalan Lengang ke Pintu yang Terbuka
Bluebird sudah membuktikan resilien terhadap berbagai macam tantangan. Pertanyaan berikutnya bukan lagi soal bertahan, melainkan soal siapa yang ikut terbawa dalam perjalanan itu.
Ada beberapa langkah yang layak dipertimbangkan:
- Kejelasan regulasi. Korlantas dan Kementerian Perhubungan dapat menjelaskan secara terbuka apakah dan bagaimana penyandang disabilitas dapat memperoleh SIM kendaraan umum, sehingga perusahaan tidak berjalan dalam ketidakpastian.
- Kajian kelayakan. Bluebird dapat memulai dengan kajian yang melibatkan organisasi disabilitas, untuk memetakan peran apa saja, di balik kemudi maupun di luar kemudi, yang realistis bagi ragam disabilitas yang berbeda.
- Program percontohan terbatas. Bila kajian menunjukkan peluang, program percontohan bisa menjadi cara mencoba tanpa mengorbankan keselamatan penumpang.
- Keterbukaan data. Mencantumkan jumlah dan peran pekerja disabilitas dalam laporan keberlanjutan akan membuat komitmen inklusivitas bisa diukur.
Sebagai catatan, usulan ini bukan tuntutan, melainkan pertanyaan yang diajukan kepada perusahaan dengan ciri inklusivitas sebagai bagian dari agenda keberlanjutannya.
Di Kramat Jati, enam tahun lalu, para pengemudi memanggil kami dari balik taksi yang berjajar di jalan yang sepi. Jalan itu kini ramai lagi. Bluebird telah membukakan pintu mobilnya bagi penumpang disabilitas. Soal siapa yang suatu hari bisa duduk di balik kemudi, itu pertanyaan yang kini layak untuk diikuti lebih lanjut.

