Indonesian Journal, Jakarta — Avtur minyak jelantah kini bukan lagi sekadar wacana. Menurut Kontan, produksi bioavtur atau sustainable aviation fuel(SAF) dari pengolahan minyak jelantah di Kilang Cilacap mencapai sekitar 11 juta liter hingga akhir Oktober 2026.
Dalam laporan Katadata, Pertamina memasuki fase komersial bioavtur pada Maret 2026, dengan produk yang mulai disalurkan ke Bandara Ngurah Rai dan Soekarno-Hatta. Minyak goreng bekas yang biasanya dibuang kini punya tujuan baru: tangki pesawat.
Perlu dipahami bagaimana SAF ini dibuat. Di Cilacap, Kontan melaporkan bahwa minyak jelantah diolah bersama bahan baku lain lewat skema co-processing di unit Thermal Distillate Hydro Treating (TDHT), dengan porsi jelantah maksimal sekitar 5% dari kapasitas unit.
Jalur serupa ditempuh di Dumai. Berdasarkan siaran Humas Kilang Dumai yang dimuat Riau Peristiwa, SAF di sana berkomposisi 5% jelantah dan diolah di unit Hydrocracker Unibon. Uji coba pabriknya disebut berhasil pada 25 Juli 2026, dan produknya diluncurkan pada 15 Oktober 2026.
Angka 5% ini lebih tinggi dibanding awal program. Investortrust mencatat penerbangan perdana Pelita Air rute Jakarta–Bali pada 20 Agustus 2025 memakai SAF dengan campuran jelantah 2,5%. Artinya, porsi bahan baku daur ulang naik, tetapi sebagian besar bahan dalam produk akhir tetap berasal dari proses kilang konvensional. Karena itu, istilah “avtur jelantah” lebih tepat dipahami sebagai SAF campuran.
Klaim Emisi dan Ujian Sebenarnya
Pertamina menyebut SAF buatannya mampu menekan emisi karbon. Untuk produk Cilacap, klaimnya hingga 84% menurut Kabar Bursa, sedangkan untuk Dumai hingga 81% menurut Riau Peristiwa. Pemberitaan yang ditelaah belum memuat metodologi perhitungannya.

Sebagai pembanding, Investortrust mengutip studi di jurnal Applied Energy (2024) yang menemukan bahwa penerbangan dengan SAF dari minyak jelantah dapat menurunkan emisi gas rumah kaca 76–97% dibanding avtur fosil. Rentang yang lebar itu menunjukkan hasil sangat dipengaruhi metode hitung dan rantai pasok. Angka Pertamina karenanya lebih tepat dibaca sebagai potensi, bukan hasil audit independen.
Potensi bahan baku tergolong besar. Katadata menulis Indonesia diperkirakan bisa menghasilkan 3–4 juta kiloliter minyak jelantah per tahun. Kajian yang dipresentasikan di konferensi ICBB 2026 juga menempatkan minyak sawit mentah dan minyak jelantah sebagai dua bahan baku prioritas bioavtur di Indonesia.
Namun potensi tidak sama dengan pasokan yang terkumpul. Harian Jogja menyoroti bahwa memastikan pasokan jelantah agar produksi berkelanjutan masih menjadi tantangan. Pada skema pengumpulan berbasis pelanggan, Investortrust melaporkan sekitar 1.740 peserta telah menyumbang hampir 60.000 liter, dengan tiap titik mengumpulkan sekitar 1.400 liter per bulan.
Bandingkan dengan kebutuhan kilang. Detik melaporkan, pada 2025 PT Kilang Pertamina Internasional menyebut kemampuan menyerap sekitar 38.000 kiloliter jelantah per tahun. Program warga itu baru salah satu jalur dan datanya berbeda periode, tetapi selisihnya menunjukkan pasokan skala besar harus datang dari jalur lain.
Pemerintah menyiapkan jalur itu lewat desa. Antara melaporkan koperasi desa disiapkan menjadi pengepul, lalu menjual jelantah ke Pertamina Patra Niaga untuk diolah di kilang. Pertamina juga membidik jelantah dari dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG), seperti dilaporkan Bisnis.com.
Wakil Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Taufik Aditiyawarman menyampaikan arah berikutnya dalam siaran yang dimuat Riau Peristiwa. “Kini, kita fokus dalam strategi bagaimana mendapatkan feedstock yang sustain dan tentunya tersertifikasi,” ujarnya.
Sertifikasi memang menjadi kunci pasar global. SAF Kilang Dumai disebut telah mengantongi sertifikasi ISCC EU dan ISCC CORSIA.
Skala produksi dan Target Wajib 2027
Angka produksi perlu dilihat proporsional. Sebelas juta liter setara sekitar 11 ribu kiloliter. Kontan menulis angka itu sebagai capaian hingga akhir Oktober, sementara kutipan narasumber dalam laporan yang sama menyebut produksi bulan Oktober, sehingga periodenya perlu diklarifikasi.
Sebagai pembanding, makalah kebijakan di Journal of Indonesia Sustainable Development Planning (Agustus 2026) memproyeksikan konsumsi avtur nasional sekitar 4,9 juta kiloliter pada 2024. Dengan skala itu, kontribusi SAF saat ini masih perlu ditingkatkan lagi.
Permintaan akan didorong regulasi. Menurut Argus Media, penerbangan internasional dari Indonesia ditargetkan wajib memakai 1% SAF pada 2027, sekitar 60.000 kiloliter, lalu naik menjadi 2,5% pada 2030. Kewajiban itu akan menguji apakah kapasitas Cilacap, Dumai, dan kilang lain, beserta rantai pasok jelantah, mampu mengimbanginya.
Beberapa hal belum bisa dipastikan dari data terbuka: periode pasti produksi 11 juta liter, metodologi klaim emisi, perbandingan harga SAF dengan avtur fosil, cara mencegah jelantah kembali dijual sebagai minyak goreng, dan progres Kilang Balongan.
Investortrust melaporkan Dumai dan Balongan sama-sama ditargetkan uji coba certified SAF pada 2026. Publikasi terbuka yang ditelaah baru melaporkan capaian Dumai. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu akan menentukan apakah avtur jelantah menjadi pilar transisi energi penerbangan atau sekadar program percontohan.

