Indonesian Journal, Semarang – Arthur Rimbaud, penyair muda Prancis yang saat itu berusia 22 tahun, memulai perjalanannya di Semarang pada Juli 1876. Menerbitkan karya-karyanya yang kemudian menjadikannya salah satu tokoh sastra terbesar sepanjang masa. Sayangnya, setelah itu Arthur Rimbaud memutuskan meninggalkan dunia puisi untuk menjalani kehidupan penuh petualangan dan perjalanan yang membuatnya dijuluki L’Homme aux semelles de vent (pria dengan telapak kaki angin) … dan perjalanan jarak jauh pertamanya adalah ke Pulau Jawa.
Setelah berlalu 150 tahun kemudian, perjalanan singkat dan misteriusnya di Jawa Tengah menginspirasi babak baru dalam hubungan budaya antara Prancis dan Indonesia. Dalam rangka memperingati perjalanan Arthur Rimbaud ke Jawa, Bapak Fabien Penone,
Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN, mengadakan kunjungan ke Jawa Tengah pada tanggal 6 Agustus.
Beliau memimpin perjalanan simbolis dari Semarang ke Kedungjati, Tuntang, dan Salatiga, menelusuri kembali rute yang dilalui oleh Arthur Rimbaud pada tahun 1876. Setelahnya, Beliau meresmikan pameran khusus bertajuk “Arthur Rimbaud: A Journey through Java” (Lawang Sewu, 6–8 Agustus 2026), yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Prancis – Institut français d’Indonésie (IFI), Pemerintah Kota Semarang, dan Alliance Française Semarang, bekerja sama dengan Universitas Negeri Semarang (UNNES), PT Kereta Api Indonesia (KAI), dan PT Kereta Api Pariwisata.
Acara peresmian ini juga menandai peluncuran resmi Residensi Rimbaud, program residensi sastra bilateral pertama antara Prancis dan Indonesia. Dinamai berdasarkan nama penyair Prancis ternama yang perjalanan misteriusnya di Jawa terus menginspirasi dialog sastra hingga saat ini, Residensi Rimbaud dirancang sebagai program pertukaran jangka panjang antara para penulis dari Prancis dan Indonesia.
Seiring dengan terus meningkatnya kemitraan budaya antara Prancis dan Indonesia pasca-pengadopsian Deklarasi Borobudur tentang Strategi Budaya Bersama oleh Presiden Prabowo Subianto dan Emmanuel Macron dan pada Mei 2025, program Residensi Rimbaud menjadi inisiatif konkret lainnya yang ditujukan untuk memperkuat kerja sama bilateral di bidang sastra.
Progam ini terlaksana setelahl peluncuran penghargaan sastra Choix Goncourt Indonesia pada Mei 2026 dan partisipasi penulis serta penerbit terkemuka Prancis dalam Makassar International Writers Festival 2026. Hal ini mencerminkan ambisi bersama kedua negara untuk memupuk dialog melalui buku, gagasan, dan karya kontemporer.
