Indonesian Journal, Jakarta – Nama Ananda Sukarlan bukan lah nama asing diantara musisi dunia. Komponis & pianis ini memiliki hubungan erat dengan dunia sastra terutama melalui tembang puitik, karya musik klasik yang digubah berdasarkan puisi dan prosa dengan menciptakan lebih dari 500 tembang puitik dari karya puluhan sastrawan Indonesia seperti Sapardi Djoko Damono, Chairil Anwar, Umbu Landu Paranggi dll, serta sastrawan dunia seperti Rabindranath Tagore, William Shakespeare atau Federico García Lorca. Selain itu, ia merintis opera berbahasa Indonesia yang diadaptasi dari karya Seno Gumira Ajidarma (“Clara”, “Ibu, Yang Anaknya Diculik Itu”) serta cerpen dari Putu Wijaya.
Pada kesempatan diskusi sastra mengenai pelestarian identitas nasional melalui sastra.bertajuk “Books and Identity Over Coffee: Vienna – Kyiv – Jakarta”, Kedutaan Besar Austria, Senen (19/10) menganggap Ananda Sukarlan sebagai tokoh yang tepat untuk terlibat di dalamnya.
Diskusi yang dimoderatori oleh Debra H. Yatim ini mengetengahkan sastrawan dari 3 negara yang tiba di Jakarta sebelum meneruskan perjalanan mereka ke Ubud Writers & Readers Festival (UWRF), 21-25 Oktober 2026. Mereka adalah Stefan Kutzenberger (Austria), Irena Karpa (Ukraina), dan dari Indonesia Laksmi Pamuntjak dan Dhianita Kusuma Pertiwi. Diskusi berkisar tentang memapankan dan melestarikan identitas nasional melalui sastra, seperti juga Ananda Sukarlan melalui musik, terutama di karya-karyanya Rapsodia Nusantara yang kini berjumlah 46 nomor. Di salah satu permainannya, Ananda memainkan Rapsodia Nusantara no. 39 (berdasarkan lagu Nusa Tenggara Timur, “Oras Loro Malirin”). Istimewanya, nomor ini memang ditulis oleh Ananda khusus untuk dimainkan dengan tangan kiri saja. Ini adalah salah satu karya yang ditulisnya untuk yayasan “Superhuman” di Ukraina, untuk para musisi yang kehilangan anggota tubuhnya di perang yang melawan Rusia saat ini. Selain itu ia juga memainkan beberapa karya yang kental dengan nuansa etnik Bali, “Paradise lost” serta etnik Jawa, “Urip iku Urup”. Ia menutup penampilannya dengan karya barunya, “Under Juliet’s Balcony” yang baru ditulisnya Juni kemarin di Verona, Italia.
Selain dianugerahi penghargaan tertinggi untuk warga sipil dari Kerajaan Spanyol “Real Orden de Isabel la Católica”, Ananda Sukarlan juga pernah dianugerahi gelar kesatriaan “Cavaliere Ordine della Stella d’Italia” oleh Presiden Italia Sergio Mattarella pada tahun 2020.
Ia juga seniman Indonesia pertama yang diundang Portugal tepat setelah hubungan diplomatik Indonesia dan Portugal pada tahun 2000.
Lulus dengan summa cum laude dari Royal Conservatorium of Den Haag (Belanda), Ananda juga masuk sebagai salah satu dari 100 “Asia’s Most Influential” atau “Orang Asia Paling Berpengaruh” di dunia seni tahun 2020 oleh Majalah Tatler Asia yang terbit di Hong Kong.
Sastrawan Austria, Stefan Kutzenberger adalah juga dosen universitas di Wina. Karya sastranya telah menerima banyak penghargaan, di antaranya Prize of the International Literary Dialogues (Wina–San Francisco), serta beasiswa dari Literar-Mechana, Literary Colloquium Berlin, dan Deutscher Literaturfonds. Novel debutnya, Friedinger, terbit pada tahun 2018; pada tahun 2021 novelnya Jokerman mewakili Austria di European Literature Night di New York; pada tahun 2023 novelnya Kilometer null ditampilkan sebagai bagian dari fokus Austria di Leipzig Book Fair yang berkeliling ke San Francisco, Tunis, dan Istanbul; dan pada tahun 2024 drama panggungnya, Divas im Dilemma, tayang perdana. The List of the Living adalah novel keempatnya.
Irena Karpa adalah seorang penulis, musisi, dan jurnalis asal Ukraina yang karyanya memadukan humor tajam, komentar sosial, dan suara yang berani serta khas. Ia menulis berbagai novel, cerita pendek, dan esai yang telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa. Selama masa pascasarjananya, ia tinggal di Indonesia, sebuah pengalaman yang kemudian tertuang dalam novelnya Freud Would Cry, yang juga telah diterjemahkan ke berbagai bahasa lain. Selain menulis, sejak tahun 1999 Karpa juga menekuni karier musik sebagai vokalis utama dan penulis lagu Qarpa, sebuah band alternatif yang memadukan unsur punk, industrial, hardcore, dan psychedelic trip-hop.
Dhianita Kusuma Pertiwi adalah seorang penulis, penerjemah, dan editor. Ia menamatkan studi gelar ganda di Jurusan Sastra Inggris, Universitas Negeri Malang, dan Magister Ilmu Susastra, Universitas Indonesia, dengan dukungan beasiswa LPDP. Tesisnya yang mengkaji lakon wayang purwa Sesaji Raja Suya dianugerahi Nusantara Academic Award 2020. Selain menulis prosa dan nonfiksi, ia juga menulis naskah drama yang beberapa di antaranya telah diterbitkan dalam bahasa Inggris, antara lain “Night Market for Brojo” (The Mercurian, 2019) dan “Sago Worms” (Asymptote Journal, 2020). Berkolaborasi dengan Akbar Yumni, ia menggarap proyek teater reenactment film Sedap Malam (Ratna Asmara, 1951) yang telah dipentaskan di Jagongan Wagen Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (2021) dan Artjog MMXXI (2022). Selain menjadi redaktur Footnote Press yang ia dirikan, setiap akhir pekan Dhianita memublikasikan artikel tentang budaya, sejarah, dan sosial-politik di laman Medium. (narasi: Kintan)

