Puluhan warga memadati halaman rumah Amaq Marni, pemangku adat Desa Kesik, Lombok Timur. Sembilan hari menjelang ritual Nunas Nede, petani mengantarkan hasil bumi untuk diolah menjadi makanan tradisional. Ritual tahunan ini menjadi cara warga Kesik jaga mata air sekaligus menyambut musim hujan.
Dua hari kemudian, warga berjalan beriringan menuju sumber mata air di kaki perbukitan. Mereka membawa dulang berisi padi, ketan, buah-buahan, ayam kampung, dan kendi kecil. Air dari mata air yang mereka jaga turun-temurun akan mengisi kendi itu.
Berawal dari Kekhawatiran
Sebagian besar warga Desa Kesik menggantungkan hidup pada sawah yang beririgasi dari mata air alami. Ketika kemarau memanjang, debit air menyusut dan sawah retak. Kegelisahan kolektif itulah yang melahirkan ritual Nunas Nede, digelar setiap akhir musim kemarau.
Prosesi dimulai dengan mengambil air dari tujuh mata air di Desa Kesik. Air ketujuh sumber itu disatukan sebagai simbol persatuan kehidupan dan keberkahan alam. Ritual berlanjut dengan doa bersama, arak-arakan hasil bumi, zikir, dan makan bersama.
Amaq Marni menjelaskan makna ritual ini bagi keseimbangan alam desanya.
“Air itu bukan cuma untuk manusia. Air itu hidup untuk semua makhluk. Kalau mata air rusak, sawah rusak, kehidupan juga ikut hilang,” katanya, seperti dikutip Mongabay Indonesia.
Bagi masyarakat Sasak di Kesik, tradisi ini adalah bentuk pengetahuan ekologis turun-temurun. Di tengah modernisasi pertanian, mereka tetap menempatkan alam sebagai pusat kehidupan.
Perubahan Iklim Bikin Ritual Makin Relevan
Dalam beberapa tahun terakhir, musim hujan makin tidak menentu bagi petani Kesik. Debit sejumlah mata air menurun, dan waktu tanam sulit ditentukan. Kondisi itu membuat ritual Nunas Nede terasa semakin relevan bagi warga.
Amaq Sati, petani yang mengikuti ritual sejak kecil, merasakan perubahan cuaca yang mencolok.
“Dulu musim gampang ditebak. Sekarang kadang hujan terlambat, kadang terlalu deras. Kami petani jadi bingung,” ujarnya kepada Mongabay Indonesia.
Ritual adat ini kini tak hanya soal warisan leluhur. Bagi warga Kesik, ia juga menjadi bentuk perlawanan atas krisis ekologi yang tengah berlangsung.
Gotong Royong Jaga Mata Air
Dalam ritual ini, warga tidak hanya berdoa meminta hujan turun. Mereka membersihkan kawasan mata air, memungut sampah, memperbaiki saluran, dan menanam pohon. Aktivitas ini dilakukan bersama warga dari berbagai dusun.
Warga Kesik juga mempertahankan aturan adat tidak tertulis untuk melindungi sumber air. Ada larangan menebang pohon tertentu dan membuang sampah sembarangan di sekitar mata air. Menurut Mongabay Indonesia, laporan akademik dari Universitas Mataram turut mencatat fungsi sosial ritual ini bagi warga.
Amaq Marni mengingatkan pesan leluhur soal hubungan pohon dan air.
“Kalau pohon habis ditebang, air juga ikut pergi. Itu pesan orang tua dulu yang selalu kami jaga,” katanya.
Mewariskan Pengetahuan ke Generasi Muda
Anak-anak dan remaja Kesik dilibatkan membersihkan mata air dan mengikuti prosesi ritual. Mereka juga mendengar cerita tetua soal sejarah sumber air desanya. Pelibatan ini menjadi cara mewariskan pengetahuan lokal soal air dan lingkungan.
Muhamad Kadri, Kepala Desa Kesik, menilai regenerasi pengetahuan ini penting di tengah modernisasi.
“Kalau anak muda tidak dikenalkan sejak sekarang, nanti mereka hanya tahu air keluar dari keran tanpa tahu bagaimana menjaganya,” katanya, seperti dikutip Mongabay Indonesia.
Popularitas Nunas Nede kini menarik perhatian dari luar desa. Warga tetap berusaha menjaga ritual ini agar tidak sekadar menjadi tontonan wisata.
Selama warga Kesik masih berjalan menuju tujuh mata air setiap tahun, ingatan tentang hubungan manusia dan alam akan terus hidup. Ritual ini membuktikan tradisi lokal bisa menjadi cara warga jaga mata air di tengah krisis iklim.

