IndonesianJournal.id, Jakarta – Pengelolaan Sampah Pariwisata Bali masuk babak baru saat pemerintah setempat berkomitmen menutup TPA Suwung. Penutupan tersebut menjadi langkah awal menuju transisi energi terbarukan dimana akan hadir proyek pengolahan residu menjadi energi. Namun langkah yang juga didukung bupati dan walikota terkait itu justru menjadi sorotan global.
Sorotan datang dari Shindong Lee, seorang konten kreator asal Korea Selatan. Ia yang mengaku jatuh cinta dengan Pulau Dewata itu mengaku resah dengan pengelolaan sampah di Bali. Pengalamannya selama menetap menegaskan tantangan yang dihadapi Bali kali ini telah menjadi perhatian dunia.
Berkejaran Waktu di Tengah Krisis Sampah Bali
Pemerintah Provinsi Bali tengah melakukan reformasi pengelolaan sampah pariwisata Bali melalui kebijakan penutupan TPA Suwung. Rencana ini dilakukan bertahap hingga penutupan total di bulan Agustus 2026 nanti. Sejak April, warga Bali wajib menerapkan prinsip ekonomi sirkular dalam skala rumah tangga dan memilah sampah berdasarkan kategori.
Hasil awal terlihat signifikan dengan menurunnya volume truk sampah yang masuk hingga 50 persen. Namun, kurangnya infrastruktur di tingkat desa dengan disertai kebingungan warga memicu dampak lanjutan. Salah satunya adalah lonjakan pengangkutan sampah di sungai hingga mencapai 7 ton per hari.
Rencana pengelolaan sampah Pariwisata Bali tampak berkejaran dengan waktu dengan adanya celah besar dari hulu ke hilir. Target ambisius menuju energi terbarukan berpacu dengan realitas di lapangan. Saat ini Bali harus menelan pil pahit sementara yang hasilnya akan sepadan dengan terciptanya Bali yang bersih berkelanjutan.
Industri Pariwisata sebagai Penyumbang dan Solusi
Di tengah kondisi Bali saat ini, satu sektor yang tak bisa lagi menghindar adalah industri pariwisata. Meskipun penduduk lokal menjadi sumber sampah domestik, industri pariwisata turut berkontribusi signifikan dalam krisis sampah Bali. Hal ini berhubungan dengan peningkatan jumlah aktivitas turis setiap hari, khususnya di hotel, resor, maupun kawasan wisata lainnya.
Riset dari Bali Partnership dan laporan SYSTEMIQ menunjukkan rasio sampah antara warga lokal dengan turis yang datang. Rata-rata gabungan seluruh jenis wisatawan menghasilkan 1,7 hingga 3 kg sampah per harinya. Sampah yang sebagian besarnya dari turis di resor-resor mewah itu jadi bagian dominan dalam sistem pengelolaan sampah pariwisata Bali.
Sayangnya, sebagian besar pelaku industri wisata Bali masih bergantung pada sistem pengelolaan publik. Sebagiannya masih menerapkan sistem konvensional, tanpa memiliki mekanisme pengolahan sampah mandiri yang kuat. Padahal, dengan skala operasional dan sumber daya yang dimiliki, sektor ini justru memiliki kapasitas besar untuk menjadi bagian dari solusi.
Sudah saatnya industri pariwisata Bali mengambil peran aktif dalam pengelolaan sampah organik menjadi kompos atau energi. Mereka juga dapat mengoptimalisasi penerapan sistem daur ulang internal dan pengurangan plastik sekali pakai. Langkah ini bukan hanya soal tanggung jawab lingkungan, tetapi juga investasi jangka panjang bagi keberlanjutan pariwisata Bali itu sendiri.
Menuju Sistem Pengelolaan Sampah Berkelanjutan di Bali
Transformasi pengelolaan sampah pariwisata Bali semestinya didukung tidak saja pemerintah dan warganya semata. Pendekatan desentralisasi perlu didorong untuk memperpendek rantai distribusi sampah. Salah satu contohnya adalah fasilitas pengolahan sampah berbasis wilayah.
Sistem ini akan melibatkan masyarakat maupun pelaku usaha pariwisata secara langsung maupun efisien karena lebih dekat ke sumber. Inisiatif ini akan mampu mendukung rencana pemerintah Bali menuju pariwisata berkelanjutan.
Bali kini berada di persimpangan transisi itu. Tanpa perubahan nyata, krisis sampah berpotensi merusak utama pariwisatanya. Namun dengan kolaborasi yang tepat, pengelolaan sampah pariwisata Bali berpeluang besar untuk bertransformasi menjadi model destinasi berkelanjutan dunia.
