Model Bisnis Madu Trigona Lombok, Perbandingan Antara Ekosistem Sehat dan Margin di Tangan Petani

Indonesian Journal, Lombok Utara — Madu Trigona di pasaran nasional kisaran mencapai Rp400.000 hingga Rp600.000 per kilogram. Dibandingkan harga madu konvensional, angka ini memiliki nilai yang tinggi. Namun di tingkat petani Lombok Utara, model bisnis komoditas ini tampak lebih sederhana dengan slim margin daripada yang terlihat di marketplace.

Sebagaimana AR jelaskan kepada tim Indonesian Journal.id, tiap kotak koloni lebah Trigona menghasilkan madu sekitar satu liter. Siklus panen tiap empat bulan sekali.

“Terkait harga jual, pembudidaya memberikan harga normal Rp150.000,-/ 500 ml. Harga 1 liter itu kami jual harga 300 ribu,” terang AR.

Artinya, dari satu siklus panen empat bulan, lima koloni menghasilkan pendapatan kotor sekitar 300.000 rupiah. Perhitungan ini memberi kesan tersendiri dari narasi pembanding yang melekat pada bisnis madu premium.

Struktur modal madu Trigona ini memiliki dua lapis. Untuk memulai, calon pembudidaya perlu membeli kotak berisi koloni aktif siap dipanen seharga Rp150.000 hingga Rp200.000 per unit. Sementara itu, kotak kosong tanpa koloni dijual jauh lebih murah, sekitar Rp30.000 per unit. Biasanya, kotak kosong ini dipakai untuk memperluas usaha lewat pemisahan koloni yang sudah berkembang, bukan untuk memulai usaha dari nol.

Begini simulasi usaha per satu kilogram madu Trigona (berdasarkan petani asal Lombok Utara) : 

  • Modal awal lima kotak berisi koloni dikisaran Rp750.000 hingga Rp1 juta.
  • Pendapatan kotor Rp300.000 per panen setiap empat bulan, atau sekitar Rp900.000 per tahun dari tiga kali panen.
  • Modal awal usaha skala kecil ini bisa kembali dalam waktu sekitar satu tahun jika seluruh hasil panen terjual habis.
  • Biaya perluasan usaha jadi jauh lebih murah. Penambahan koloni baru bisa dilakukan lewat kotak kosong seharga Rp30.000 per unit dari hasil pemisahan koloni yang sudah ada.

Unit ekonomi model bisnis ini sepenuhnya bergantung pada satu variabel yang sering dianggap sekadar isu lingkungan, yaitu ketersediaan vegetasi berbunga di sekitar lokasi budidaya. 

“Lingkungan yang banyak pohon dan bunga itu dapat mempercepat dan memperbanyak hasil panen,” kata Abdul. 

Ia menanam pohon kelengkeng, rambutan, bidara arab, mangga, dan markisa di pekarangannya. Bukan sebagai kegiatan konservasi terpisah, Ini sebagai bagian langsung dari strategi produksi yang menentukan besar kecilnya panen.

AR menyebut hasil panen dijual lewat media sosial dan penawaran langsung. Sisanya, produk madu dibawa pengepul ke kota dan kawasan wisata seperti Gili di Lombok Utara. Titik-titik lokasi tersebut mampu menyerap produk karena daya beli konsumen yang lebih tinggi.

Temuan menarik dari model bisnis ini, kendala utamanya bukan kurangnya permintaan pasar. 

“Permintaan pasar dengan hasilnya itu sebanding, kembali berapa jumlah koloni yang dibudidayakan saja,” ujar Abdul. 

Fakta Ini mematahkan asumsi umum bahwa petani kecil selalu kesulitan menembus pasar. Karena dalam kasus AR, pasar sudah menyerap semua yang bisa ia hasilkan, dan justru kapasitas produksi yang jadi pembatas utama pertumbuhan usahanya.

Namun klaim bahwa usaha ini “pasti untung” perlu dilihat lebih kritis. AR menyebut budidaya Trigona nyaris tanpa biaya operasional karena ia mengerjakan sendiri seluruh prosesnya. Perhitungan modal dan breakeven di atas juga belum memasukkan nilai waktu kerja, sesuatu yang umum terlewat pada usaha rumahan skala kecil. 

Tanpa menghitung biaya kesempatan tenaga kerja, jangka waktu breakeven satu tahun yang terlihat cukup cepat sebenarnya belum menggambarkan margin riil. 

Model bisnis madu Trigona Lombok pada akhirnya menggambarkan paradoks sederhana. Ekosistem yang sehat menghasilkan produk bernilai jual tinggi, tetapi struktur rantai distribusi membuat nilai tambah terbesar justru dinikmati pihak di luar petani.

Community Podcast

Latest articles

Related articles