Kisah Petani Madu Trigona Lombok, 8 Tahun Bangkit dari Reruntuhan Gempa

Indonesian Journal, Lombok Utara — Sebelum gempa Lombok mengguncang di tahun 2018, hampir tak ada warganya menganggap keberadaan Lebah Trigona memiliki nilai ekonomi. Salah satunya warga berinisial AR yang kini aktif menjadi petani madu Trigona.

“Sebelumya, kami hanya tau lebah Dorsata (lebah sengatan) itu yang dapat dibudidaya dan bernilai ekonomi,” ujar AR mengawali. 

Namun, semua berubah ketika gempa bermagnitudo 7 meluluhlantakkan Lombok Utara, dan gelombang relawan datang membawa bantuan serta informasi penting.

“Banyak relawan yang dari luar daerah memberikan informasi dan pengetahuan kalau trigona itu memiliki banyak manfaat dan mudah di budidaya. Apalagi, di luar daerah sudah banyak peminat nya,” lanjutnya.

Dalam pengamatannya, pola serupa juga tercatat di sejumlah desa terdampak gempa lainnya di Lombok. Desa Sesait di Lombok Utara dan Desa Lingsar di Lombok Barat, sama-sama ikut mengembangkan budidaya Trigona setelah mendapat pendampingan pascabencana. AR dan warga sekitar kemudian berinisiatif mencari sarang Trigona liar di kebun-kebun sekitar rumah, yang selama ini kurang termanfaatkan.

“Kami mencoba belajar bagaimana cara memperbanyak koloni lewat teman-teman yang sudah mencoba atau belajar duluan,” ujar AR. 

Aksi saling berbagi pengetahuan ini kemudian menjadi sebuah jejaring lokal antarwarga yang saling memberdayakan. Praktik budidaya Trigona kini bertahan dan berkembang di Lombok Utara hingga delapan tahun setelah gempa.

Usaha budidaya madu Trigona milik AR sendiri berjalan konsisten meski dalam skala kecil. Pohon-pohon seperti kelengkeng, rambutan, dan mangga di kebunnya menopang usaha pemuda Desa Dangiang itu sepanjang tahun.

Keberlanjutan usaha ini menunjukkan sebuah fenomena menarik bagaimana peristiwa bencana membawa masuk pengetahuan baru yang memberdayakan. Informasi dari jalur masuknya relawan menjadi bagian warga Lombok Utara memandang hutan dan pekarangan mereka sebagai sumber penghidupan alternatif. 

AR berpesan kepada generasi muda lain yang tertarik menekuni usaha serupa. 

“Itu sangat bagus! Tinggal siapkan modal untuk pengadaan koloni dan mempersiapkan kondisi lingkungan sekitar sebagai makanan trigona. Selebihnya, hanya membutuhkan ketekunan,” pesannya.

Alumni Universitas Mataram itu juga menerangkan pertanian madu Trigona bukan tanpa tantangan.

“Perlu diketahui juga tempat penaruhan kotak Trigona, jangan sampai diganggu hama seperti cicak dan serangga lainnya,” jelas AR. 

Bagi AR dan pembudidaya Trigona Lombok Utara, selain sebagai sumber penghasilan baru, usaha ini membawa perspektif baru mereka menghargai lingkungan setelah bencana besar  menerpa.

Community Podcast

Latest articles

Related articles