Indonesian Journal, Jakarta — Di tengah tekanan volume sampah kota yang terus bertambah, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai menguji pengolahan sampah organik termutakhir. Di Pasar Kramat Jati, sebuah pengolahan berteknologi hidrotermal diyakini cepat menangani limbah organik dari pasar tradisional.
Untuk memastikannya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meninjau langsung fasilitas pengolahan tersebut pada Senin (11/5/2026). Langkah ini dinilai penting karena Pasar Kramat Jati menjadi salah satu simpul utama timbulan sampah di ibu kota. Tercatat, sekitar enam ton sampah terbuang per harinya, dengan 75-80 persen berupa sampah organik.
Teknologi hidrotermal bekerja efisien memanfaatkan uap panas bertekanan tinggi untuk mengurai limbah organik. Bagi Jakarta, pendekatan tanpa proses pembakaran ini menjadi bagian dari strategi pengelolaan sampah dari sumber. Teknologi ini juga berpotensi mampu mengurangi beban sampah yang terus bergerak ke TPST Bantargebang secara efektif.

“Dengan teknologi hidrotermal, waktu pengolahan sampah dapat dipangkas menjadi sekitar dua jam untuk setiap batch. Ini merupakan inovasi yang sangat baik karena mampu mempercepat proses pengolahan sekaligus menghasilkan produk yang bernilai ekonomis,” kata Pramono.
Hasil uji coba sepanjang April 2026 memberi gambaran awal yang cukup konkret. Sebanyak 1.708,1 kilogram sampah organik berhasil diolah di Pasar Kramat Jati.
Dari proses itu dihasilkan 936 liter pupuk cair, dengan efisiensi waktu yang disebut mencapai 80 kali lebih cepat dibanding metode konvensional. Selain pupuk cair, proses tersebut juga menyisakan residu padat yang dapat dimanfaatkan kembali sebagai media tanam maupun pupuk organik.
Target Ekosistem Pasar Hijau di Jakarta
Secara teknis, skala Pasar Kramat Jati menjadikan lokasi ini penting sebagai titik uji coba. Dengan 1.803 tempat usaha, pasar ini menyimpan tantangan limbah organik yang menumpuk cepat, dengan ruang pengolahan yang kurang memadai. Hal ini menjadi masalah yang khas bagi kota besar, mulai dari bau, pencemaran, bahkan gangguan kesehatan di kawasan sekitar.
Karena itu, Pemprov DKI tidak ingin pengelolaan sampah pasar berhenti pada pola lama, berupa “angkut-pinda-buang”. Pramono mengatakan pendekatan seperti di Kramat Jati diharapkan bisa menjadi model bagi pasar-pasar lain yang dikelola Perumda Pasar Jaya.
“Capaian ini menunjukkan bahwa inovasi pengelolaan sampah dapat memberikan hasil nyata dan terukur. Ke depan, kami ingin implementasi di Pasar Kramat Jati menjadi percontohan bagi pasar-pasar lain di bawah naungan Perumda Pasar Jaya,” ujarnya.
Peninjauan ini juga menjadi bagian dari tindak lanjut Gerakan Pilah Sampah yang mulai berjalan sejak 10 Mei 2026. Keterlibatan pedagang, pengelola pasar, dan warga sekitar dinilai menjadi kunci agar model ini tidak berhenti sebagai proyek teknologi semata.
Di titik ini, yang sedang diuji Jakarta bukan hanya mesin pengolah sampah. Yang sedang dicoba adalah perubahan cara pandang kota terhadap limbah organik. Dari sesuatu yang selama ini dianggap beban, menjadi sumber daya yang masih menyimpan nilai ekonomi sekaligus manfaat ekologis.
