Pidato Koperasi Prabowo, Antara Hilirisasi dan Ekonomi Kerakyatan

Indonesian Journal, Jakarta – Ada nada yang terdengar seperti tantangan dalam pidato koperasi Prabowo di Cilacap. Bukan sekadar pernyataan, melainkan semacam pertanyaan yang dilemparkan ke sejarah.

“Buka dalam sejarah dunia, ada nggak 25.000 atau 30.000 koperasi bisa dibangun dan diresmikan dalam satu tahun?”

Kalimat itu meluncur saat groundbreaking proyek hilirisasi tahap II di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2026). Di tengah narasi industrialisasi dan hilirisasi, koperasi tiba-tiba kembali disebut. Seolah diingatkan bahwa di balik ambisi ekonomi besar, ada model lama yang belum selesai diceritakan.

Koperasi, dari Rochdale ke Nusantara

Untuk memahami resonansi dari pidato itu, koperasi tidak bisa dibaca sebagai program semata. Ia memiliki sejarah panjang yang melintasi benua.

Gerakan koperasi modern pertama kali lahir di Rochdale, Inggris, pada 1844. Saat itu, Revolusi Industri menciptakan jurang ekonomi yang lebar. Sekelompok pekerja mencoba menjawabnya dengan cara sederhana dengan menghimpun kekuatan bersama.

Dari sanalah prinsip koperasi lahir. Transparansi, keanggotaan terbuka, dan pembagian hasil yang adil. Sebuah sistem yang kemudian menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia.

Namun, ketika sampai di Nusantara, koperasi tidak datang sebagai ide asing yang dingin. Ia menemukan tanah yang sudah akrab dengan semangat serupa.

Koperasi, Bahasa Perjuangan

Di Indonesia, koperasi pertama kali diperkenalkan oleh R. Aria Wiriatmadja pada 1895 di Purwokerto. Beliau mendirikan Hulp-en Spaarbank, atau Bank Pertolongan dan Simpanan, model koperasi dari Jerman. Tujuannya sederhana, yaitu melindungi masyarakat dari jeratan rentenir.

Namun, koperasi baru benar-benar menemukan bentuk ideologisnya ketika disentuh oleh pemikiran Mohammad Hatta.

Bagi Bung Hatta, koperasi bukan sekadar badan usaha. Ia adalah alat perjuangan. Cara melawan sistem ekonomi kolonial yang menumpuk kekayaan pada segelintir pihak.

Pandangan itu kemudian mengakar dalam konstitusi. Pasal 33 UUD 1945 menyebutkan bahwa perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar asas kekeluargaan. Sebuah kalimat yang secara implisit menunjuk pada koperasi sebagai bentuk idealnya.

Kembali ke pidato koperasi Prabowo, angka 25.000 hingga 30.000 koperasi dalam satu tahun terdengar seperti lompatan besar. Bahkan mungkin belum pernah terjadi dalam skala global.

Namun di balik ambisi itu, ada pertanyaan yang lebih mendasar, apakah koperasi masih dipahami sebagai gerakan, atau sudah bergeser menjadi program?

Secara historis, kekuatan koperasi justru terletak pada akar sosialnya. Ia tumbuh dari kebutuhan bersama, bukan dari instruksi atas ke bawah. Ia hidup karena partisipasi, bukan sekadar peresmian.

Di sinilah relevansi sejarah menjadi penting. Bahwa koperasi tidak hanya soal jumlah unit, tetapi juga kualitas relasi di dalamnya.

Koperasi, Keberlanjutan, dan Masa Depan

Menariknya, pernyataan tersebut muncul dalam konteks proyek hilirisasi. Sebuah agenda yang identik dengan industrialisasi, investasi besar, dan rantai nilai global.

Di satu sisi, hilirisasi berbicara tentang efisiensi dan daya saing. Di sisi lain, koperasi berbicara tentang pemerataan dan partisipasi.

Keduanya tidak harus bertentangan. Justru, jika dipertemukan, koperasi bisa menjadi jembatan antara pertumbuhan ekonomi dan distribusi manfaatnya.

Di sinilah narasi menjadi lebih kompleks. Bahwa koperasi tidak hanya milik masa lalu, tetapi juga bisa menjadi bagian dari masa depan, jika diletakkan dalam konteks yang tepat.

Dalam diskursus global, koperasi sering dikaitkan dengan ekonomi berkelanjutan. Bukan karena bentuk organisasinya semata, tetapi karena prinsip yang dibawanya.

Gotong royong, kepemilikan bersama, dan orientasi jangka panjang adalah elemen yang selaras dengan konsep sustainability. Koperasi tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga menjaga keseimbangan sosial.

Di Indonesia, nilai ini sebenarnya bukan hal baru. Ia sudah menjadi bagian dari budaya.

Karena itu, ketika koperasi kembali disebut dalam panggung besar seperti hilirisasi, yang dipertaruhkan bukan hanya program ekonomi, tetapi juga arah pembangunan itu sendiri.

Apakah akan tetap berakar pada semangat kebersamaan, atau justru berubah menjadi sekadar angka dalam laporan.

Koperasi, Antara Angka dan Makna

Pertanyaan dalam pidato koperasi Prabowo mungkin akan terus bergema. Bukan karena jawabannya mudah, tetapi karena ia membuka ruang diskusi yang lebih luas.

Tentang seberapa jauh koperasi masih relevan. Tentang bagaimana ia bisa beradaptasi. Dan tentang apakah Indonesia masih melihatnya sebagai fondasi, bukan sekadar pelengkap.

Karena pada akhirnya, koperasi bukan hanya soal berapa banyak yang dibangun.

Tetapi tentang bagaimana ia hidup.

 

Community Podcast

Latest articles

Related articles